Kapan Keputihan Dianggap Tidak Normal? - Kompas.com

Kapan Keputihan Dianggap Tidak Normal?

Kompas.com - 17/10/2017, 12:00 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Meski keputihan adalah hal yang normal dialami wanita, tetapi ada keputihan yang merupakan tanda adanya penyakit. Ketahui apa saja cirinya.

Keputihan yang normal, menurut dr.Rino Bonti Tri H.Shanti, Sp.OG, terjadi menjelang masa subur. "Leher rahim secara normal mengeluarkan cairan berwarna bening, bersih, tidak berlebihan dan tidak menimbulkan keluhan," katanya dalam acara temu media "Pentingnya Menjaga dan Merawat Daerah Kewanitaan" yang diadakan oleh Resik V di Jakarta (16/10/2017).

Keputihan yang tidak normal memiliki gejala rasa gatal, panas dan nyeri di organ kewanitaan, kemerahan, bahkan berbau busuk.

"Keputihan seperti ini harus diwaspadai karena merupakan tanda adanya infeksi pada vagina," ujar dokter dari RS.Hermina Jatinegara Jakarta ini.

Penyebab keputihan tidak normal paling sering karena infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur kandida, bakteri vaginosis, atau parasit trikomoniasis.

Infeksi yang disebabkan bakteri vaginosis memiliki ciri cairan berbau amis, sedangkan yang disebabkan oleh trikomoniasis ditandai dengan cairan banyak, berbusa, dan berbau busuk.

"Keputihan karena jamur kandida memiliki gejala cairan khas seperti susu basi, dan vulva terasa panas, serta nyeri saat berkemih," katanya.

Keputihan tidak normal bisa disebabkan karena infeksi menular seksual, kelainan anatomi, vagina kering dan tipis saat menopause, atau pun masuknya benda asing ke dalam vagina.

Walau begitu, penyebab paling sering keputihan adalah kebersihan area kewanitaan yang tidak terjaga dengan baik.

“Pemicu awalnya adalah kondisi organ intim yang lembab, sehingga menjadi media yang baik untuk jamur dapat tumbuh," katanya.

Ia menambahkan, membersihkan area intim sebaiknya tidak menggunakan sabun karena bersifat basa. "Lebih baik dengan air biasa atau menggunakan cairan khusus pembersih vagina dengan pH yang sesuai,” jelasnya.

Wanita juga sebaiknya menghindari douching yaitu menyemprotkan cairan khusus ke dalam vagina. Lebih baik dibersihkan dengan air atau cairan khusus buat organ intim yang aman,” katanya.

Vaginal douching hanya diberikan untuk infeksi berat di vagina, dan itupun tidak digunakan secara rutin.


EditorLusia Kus Anna

Close Ads X