Kompas.com - 04/04/2018, 13:00 WIB
. Getty Images/iStockphoto.

Lindsay menyebut, mungkin orang-orang merasa bahwa mereka memiliki "semangat" yang sama dengan penikmat situs pornografi lain, dan lantas melihatnya sebagai "zona tanpa penghakiman".

Baca juga: Jangan Percaya dengan Orgasme Wanita di Film Porno

Atau, mungkin pula, mereka merasa nyaman dan terlindungi saat berinteraksi dalam situs tertutup seperti itu, ketimbang harus berbagi cerita di Facebook yang diwarnai isu pembocoran data?

Bagaimana pun, Lindsay memandang, rasa hormat dan komentar yang ditunjukkan dalam fenomena komunitas di laman Porhub, merupakan hal yang patut diapresiasi. 

"Kalau saja kita semua bisa menjadi ramah seperti mereka ketika orang membutuhkan bantuan," ungkap Lindsay dalam artikelnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.