Kompas.com - 08/11/2018, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Perasaan emosional merupakan salah satu penyebab mengapa kita mengeluarkan air mata, termasuk ketika kita berhasil menyelesaikan lomba lari marathon.

Perasaan yang sama mungkin mirip dengan menonton film yang mengaduk perasaan sampai kita menangis.

"Menangis adalah emosi yang sehat sebagai respon dari rasa sedih, kewalahan, atau bahkan bahagia," kata psikolog olahraga Angie Fifer, PhD.

Fifer mengatakan, sebagai pelari yang telah tiga kali menyelesaikan lomba lari Ironman, ia pun kerap menangis di garis finish.

"Saya sangat gembira karena akhirnya bisa berhenti bergerak setelah beberapa jam, tapi tangisan itu juga efek dari melihat pelari lain," katanya.

Mempersiapkan diri menghadapi marathon, menurut Fifer, adalah proses panjang yang berpengaruh pada banyak aspek dalam hidup, mulai dari mengorbankan waktu bersama keluarga, bangun tidur dan kembali tidur lebih awal, melewati kegiatan sosial, bahkan mengubah pola makan.

"Perlombaan lari itu sendiri adalah puncak dari seluruh jam latihan dan pengorbanan, sehingga akhirnya butuh pelepasan emosi," kata Fifer.

Peserta mengikuti Mekaki Marathon 2018 di Pantai Teluk Mekaki, Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (28/10/2018). Sedikitnya 1.500 peserta mengikuti lomba lari Mekaki Marathon 2018, 1.000 untuk kategori 5K dan 500 peserta untuk 10K.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Peserta mengikuti Mekaki Marathon 2018 di Pantai Teluk Mekaki, Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (28/10/2018). Sedikitnya 1.500 peserta mengikuti lomba lari Mekaki Marathon 2018, 1.000 untuk kategori 5K dan 500 peserta untuk 10K.
Pelari lain, Emily Abbate (30), mengatakan mencapai garis finish lebih dari sebuah usaha satu hari.

"Itu adalah sebuah testimoni bahwa dedikasi dan kerja keras bisa membantu kita mencapai sesuatu yang besar," kata wanita yang sudah 7 kali mengikuti marathon ini.

Pelatih kebugaran pada umumnya justru menyarankan pelari untuk mengesampingkan emosinya saat berlomba.

"Gunakan seluruh energi dan emosi itu sebagai bahan bakar untuk menyelesaikan lomba," kata pelatih kebugaran dan pelari ultra-marathon, Jes Woods.

Walau kita tidak ikut berlari, menyaksikan peserta mencapai garis finish pun bisa membangkitkan emosi.

"Melihat lomba lari juga mengingkatkan kita bahwa mungkin kita belum berkomitmen atau mengejar target yang ingin dicapai. Lari adalah olahraga yang indah, terkadang melihat tubuh bergerak bisa menjadi pengalaman yang emosional," ujar Fifer.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.