Boleh Saja Berfoto di Lokasi Bencana, tetapi...

Kompas.com - 27/12/2018, 17:10 WIB
4 orang terlihat mengambil foto diri di dekat lokasi bencana tsunami yang menunjukkan kerusakan parah di belakangnya.The Guardian 4 orang terlihat mengambil foto diri di dekat lokasi bencana tsunami yang menunjukkan kerusakan parah di belakangnya.

 

KOMPAS.com – Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tengah membicarakan ulah sebagian orang yang mengunjungi daerah bencana di Banten dan mengambil foto diri atau selfie di sana.

Fenomena ini semakin hangat diperbincangkan ketika beritanya dimuat dalam sebuah artikel di media besar asal Inggris, The Guardian.

Beragam komentar mereka tuliskan di akun media sosial, seperti Twitter. Ada yang merasa miris, ada pula yang menyayangkan hal ini terjadi. Terlebih, ekspresi muka yang ditunjukkan dalam foto tidak mencerminkan duka dan empati atas kerusakan, serta duka akibat bencana yang terjadi.

Terlepas dari komentar netizen, pengamat media sosial Nukman Luthfie membagikan pandangannya.

Saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (27/12/2018) siang, Nukman menjelaskan beberapa poin yang harus diperhatikan sebelum mengomentari fenomena selfie di lokasi bencana itu.

1. Foto di lokasi bencana

Relawan menunjukkan alur pergerakan tanah di lokasi bencana tanah bergerak desa Bantar, Wanayasa, Banjarnegara, Jateng, Rabu (17/1). Sejak dua pekan lalu bencana tanah bergerak masih terus berlangsung yang memutuskan jalur antardesa sehingga menyebabkan tiga dusun berpenduduk 2.200 jiwa terisolasi. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/18.ANIS EFIZUDIN Relawan menunjukkan alur pergerakan tanah di lokasi bencana tanah bergerak desa Bantar, Wanayasa, Banjarnegara, Jateng, Rabu (17/1). Sejak dua pekan lalu bencana tanah bergerak masih terus berlangsung yang memutuskan jalur antardesa sehingga menyebabkan tiga dusun berpenduduk 2.200 jiwa terisolasi. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/18.
Menurut Nukman, foto diri bisa menjadi bukti kehadiran seseorang di suatu tempat tertentu, maka tidak ada yang salah jika ada orang yang ingin berfoto di mana pun ia berada. 

"Memang ada tipe orang yang pengin membuktikan dia ada di lokasi dengan cara log in, check in, yang dilengkapi dengan foto," kata Nukman.

"Sebenarnya niatnya biasa saja, dia mau mengumumkan kepada siapa pun bahwa dia sudah ke tempat bencana. Dia mau mengklaim ke siapa pun, dia sudah di sana," ucapnya.

Baca juga: Selfie di Lokasi Bencana, Beri Simpati atau Pencarian Eksistensi?

Namun, ada yang harus diperhatikan, yakni suasana di lokasi mengambil foto. Jika lokasi itu adalah lokasi bencana, ada beberapa jenis foto yang bisa dilakukan untuk menunjukkan keberadaan kita.

Nukman menjelaskan beberapa contohnya.

"Boleh selfie apa pun di situ, tapi demi menjaga empati, foto saja bagian tubuh, enggak perlu muka. Misal foto sedang menjejakkan kaki di lokasi bencana, atau tangan sedang membersihkan timbunan," ujar Nukman.

Ia juga memberikan opsi lain bagi orang-orang yang ingin berfoto di lokasi yang tidak wajar, misalnya dengan difotokan oleh orang lain dari arah belakang sehingga tidak menampakkan muka.

2. Selfie, otomatis senyum

Ilustrasi selfieShutterstock Ilustrasi selfie
Kecenderungan orang-orang yang sudah memegang kamera dan akan melakukan swafoto adalah otomatis tersenyum atau menunjukkan ekspresi bahagia lainnya.

"Selfie itu ya mesti senyum, selfie itu mesti sempurna, biar terlihat keren dan lain-lain. jadi ketika dia pegang ponsel, dia kehilangan niatnya ke sana apa," tutur Nukman.

Bukan tidak mungkin, para pemburu swafoto atau selfie itu datang ke lokasi dengan membawa bantuan atau upaya baik lain. Setelah niat utamanya tertunaikan, mereka akan mengambil satu atau dua foto diri yang akan menjadi bukti kehadirannya di lokasi.

Namun, sekali lagi selfie dapat membuat seseorang lupa dia sedang ada di mana, dalam kondisi yang seperti apa dan sebagainya.

Jadi, pintar-pintarlah menyesuaikan kondisi di mana kita berada.

Baca juga: 3 Swafoto yang Berakhir Celaka dan Meninggal pada 2018

3. Bukan penyakit milenial

Saat ditanya tentang penyakit milenial, Nukman menyatakan tidak sepakat dengan istilah itu. Menurut dia, kecenderungan orang untuk berburu swafoto ke berbagai tempat merupakan sesuatu yang normal.

Ini pun, menurut Nukman, bukan menjadi suatu indikasi adanya pergeseran nilai dalam masyarakat. Dulu tidak ada orang yang berfoto ria di lokasi bencana, kecelakaan, kebakaran, dan sebagainya, sangat berbeda dengan apa yang terjadi hari ini.

"Bukan (penyakit milenial dan pergeseran nilai), karena dulu belum ada selfie, trend selfie baru muncul," ujar dia.

Baca juga: Mungkinkah Tren "Selfie" Berakhir?




Close Ads X