Kompas.com - 29/09/2021, 14:32 WIB
|

KOMPAS.com – Tahukah Anda bahwa remaja putri rawan terkena anemia? Menurut penelitian yang dipublikasikan Marion Leslie Roche dkk pada 2018, anemia defisiensi zat besi merupakan salah satu jenis anemia yang paling banyak terjadi di dunia dan dialami remaja putri.

Sebagai informasi, anemia sendiri merupakan salah satu gangguan yang melanda ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Di dalam darah, terdapat sel darah merah dan putih.

Sel darah merah berguna untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sementara sel darah putih berfungsi untuk melawan infeksi.

Anemia terjadi apabila sel darah merah terlalu sedikit atau level hemoglobin di dalam sel darah merah jumlahnya terlalu rendah. Sedangkan anemia defisiensi zat besi berarti, zat besi yang terdapat di dalam darah terlalu kecil jumlahnya sehingga mengakibatkan kurangnya zat besi dalam darah.

Pada penelitian yang dilakukan di Jawa Barat itu, mereka menemukan bahwa anemia kekurangan zat besi punya dampak kurang baik pada anak perempuan.

Baca juga: Mencegah Stunting Dimulai dari Masa Remaja Begini Caranya

Meskipun dampaknya tidak langsung terlihat, kalau dibiarkan terus-menerus akan memengaruhi kehidupannya, bahkan masa depannya.

Beberapa contohnya adalah menurunnya prestasi sekolah, badan tumbuh tidak maksimal alias pendek, mudah lelah dan sakit-sakitan, juga rentan terhadap keracunan.

Selain itu, fungsi kognitif dapat terganggu, serta berkurangnya produktivitas seseorang, baik di dalam rumah maupun komunitas.

Bahkan ketika dewasa nanti, remaja perempuan dengan anemia berisiko saat mengandung. Ia bisa saja melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah, prematur, atau menyebabkan kematian janin.

Anemia pada ibu hamil

Anemia pada ibu hamil bisa mengganggu pasokan nutrisi ke janin. Akibatnya, bayi yang lahir berisiko mengalami berat badan lahir rendah, bahkan stunting. Lalu, secara tidak langsung meningkatkan risiko kematian pada bayi.

Baca juga: Kenapa Remaja Putri Lebih Rentan Alami Anemia

Tak hanya sampai di situ saja, anak yang dilahirkan pun dapat mengalami kekurangan gizi, mudah terkena penyakit berbahaya saat dewasa, mengalami penurunan fungsi otak dan kemampuan anak dalam berinteraksi menurun.

Di masa depan, ini dapat menjadi lingkaran yang taka da putusnya.Untuk itu, para remaja puteri diimbau untuk mengecek kesehatan mereka dengan menghitung jumlah darah ketika masuk pada usia 13 tahun atau setiap lima tahun setelahnya.

Tujuannya, untuk mengetahui apakah mereka memiliki masalah kekurangan darah atau tidak. Jika hasil kesehatan menunjukkan anemia, tandanya permasalahan ini harus langsung diatasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.