Kompas.com - 17/06/2022, 22:19 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Bila diibaratkan, sekolah layaknya rumah kedua bagi anak, tempat di mana anak mengenyam pendidikan dan berkembang.

Namun, proses belajar mengajar dan pertumbuhan anak dapat terhambat jika mereka merasa tidak aman di sekolah.

Studi terbaru yang melibatkan puluhan ribu siswa remaja mengungkap fakta yang memprihatinkan.

Seperti dilansir laman Study Finds, survei menemukan satu dari tiga siswa remaja tidak merasa aman di sekolah mereka.

Penelitian ini dikerjakan oleh para peneliti di University of Turku, Finlandia.

Mereka mensurvei lebih dari 21.000 siswa berusia antara 13-15 tahun yang tersebar di 13 negara di Eropa dan Asia pada 2011-2017.

Hasil survei membuktikan berbagai fakta, yaitu:

  • Sebanyak dua dari tiga siswa di Jepang mengaku merasa tidak aman ketika masuk ke kelas. Sekitar 69,8 persen siswa adalah perempuan.
  • Siswa di Finlandia dan Norwegia merasa sedikit lebih aman ketika pergi ke sekolah (masing-masing 11,5 persen dan 7,7 persen).
  • Jika siswa memiliki guru yang mereka rasa peduli terhadap mereka, maka mereka cenderung merasa lebih aman di sekolah.
  • Menerapkan aturan yang adil dan konsisten di kelas dapat membuat siswa merasa lebih aman.
  • Siswa yang melaporkan kasus perundungan merasa paling tidak aman di lingkungan sekolah.

"Hampir sepertiga remaja yang kami pelajari merasa tidak aman di sekolah, yang mana ini sangat mengejutkan dan menciptakan tantangan bagi masyarakat," demikian keterangan para peneliti.

Studi juga menyimpulkan, lingkungan pendidikan yang aman didasarkan pada kepedulian dan kepercayaan pada guru dan membangun interaksi positif dengan orang lain daripada terisolasi secara sosial.

"Keamanan sekolah menjadi isu penting baik untuk sistem pendidikan maupun kesehatan masyarakat."

"Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental atau dirundung lebih cenderung merasa tidak aman di sekolah," tulis peneliti.

Para peneliti menekankan perlunya intervensi anti-bullying dan promosi kesehatan mental yang mencakup psikoedukasi dan program pembelajaran sosial-emosional.

Langkah ini bertujuan untuk mencegah masalah perilaku dan meningkatkan kompetensi prososial setiap anak.

"Temuan kami menyoroti ketidaksetaraan dalam menyediakan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa di antar negara," sambung peneliti.

"Jelas ada kebutuhan akan strategi untuk mempromosikan lingkungan pendidikan di mana semua siswa dapat merasa aman dan terlindungi."

Baca juga: 6 Cara Mencegah Anak Jadi Korban Bullying

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Moms
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.