Salin Artikel

Melarikan Diri dari Bosan dan Sedih ke Makanan, Ini Bahayanya

KOMPAS.com – Makan memang bukan sekadar menghilangkan rasa lapar, tapi juga memiliki unsur rekreasional untuk memicu perasaan happy. Tak heran jika makan sering dipilih jadi pelarian dari masalah.

Orang yang sering makan ketika sedang bosan, stres, atau sedih, termasuk dalam kelompok emotional eater. Mereka ini tanpa sadar memilih “menyelesaikan” masalahnya dengan mengunyah makanan.

Terlebih biasanya makanan yang menimbulkan rasa nyaman tersebut adalah jenis makanan yang tinggi lemak, garam, dan gula.

Jika kebiasaan emotional eating ini terus berlanjut, dampaknya bukan hanya kegemukan, tapi juga membuat kita rentan terkena penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau pun gangguan psikologis.

Senior Director, Worldwide Nutrition Education and Training, Herbalife Nutrition, Susan Bowerman mengatakan respon alami tubuh terhadap stres membuat kita lebih “aktif” dan waspada. Dalam jangka panjang hal ini menurunkan kekebalan tubuh.

“Karena sistem kekebalan tubuh yang baik bergantung pada pola makan kaya nutrisi, maka menjamin terpenuhinya kecukupan nutrisi tubuh menjadi salah satu pertahanan terbaik melawan penyakit, terutama menghadapi masa-masa ketidakpastian seperti saat ini,” kata Bowerman.

Ia menjelaskan, jika makanan yang kita konsumsi berkalori tinggi, hal itu dapat merangsang pelepasan zat kimia tertentu di otak yang membuat kita merasa lebih baik. Setidaknya itu terjadi dalam jangka pendek. Akibatnya, kita ingin makan terus agar rasa happy itu tetap ada.

Mengendalikan nafsu makan

Mengusir stres dari pikiran memang tidak mudah, tetapi ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan dorongan makan.

Bowerman merekomendasikan untuk menambahkan unsur protein tanpa lemak dalam menu harian, misalnya daging unggas, telur, daging tanpa lemak, ikan, atau produk kedelai.

“Protein memuaskan rasa lapar dan membantu kita waspada secara mental. Lengkapi juga pola makan dengan buah-buahan segar, sayuran, dan biji-bijian,” katanya.

Ketika sedang stres, sangat mudah untuk menunda makan atau bahkan melewatkannya sama sekali. Akibatnya tingkat energi menurun dan kita jadi terus mengasup camilan.

Jika stres mengurangi nafsu makan Anda, cobalah makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Selain itu, luangkan waktu ekstra untuk makan agar bisa makan lebih lambat dan santai.

Cari cara lain untuk menenangkan diri, selain dengan makan. Melakukan jalan cepat, mendengar musik, atau minum secangkir teh herbal bisa jadi pilihan.

Kurangi kafein karena bisa mengganggu tidur sehingga esoknya Anda bangun dengan perasaan kurang segar dan makin stres.

Yang tidak kalah penting adalah menyelesaikan masalah utamanya. Carilah teman bicara yang tepat sehingga Anda bisa menemukan solusi untuk stres, atau setidaknya ada teman untuk mendengar keluh kesah.

Bila perasaan cemas dan stres Anda makin besar, mintalah bantuan profesional psikologi agar Anda tidak lagi mencari pelarian yang tidak sehat.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/09/28/194751220/melarikan-diri-dari-bosan-dan-sedih-ke-makanan-ini-bahayanya

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.