Salin Artikel

7 Tips Menjelaskan Perceraian Orangtua kepada Balita

Kendati demikian, perceraian juga merupakan keniscayaan dalam hubungan dan dialami oleh banyak keluarga, tanpa peduli dengan usia pernikahannya. 

Perceraian bisa terjadi saat pernikahan masih seumur jagung, atau bisa pula ketika pernikahan telah terjalin bertahun-tahun dengan anak-anak yang sudah dewasa.

Nah, ketika perceraian terjadi saat sebuah pasangan masih memiliki anak balita, apa yang harus dilakukan?

Ketika menjelaskan perceraian kepada balita, penting untuk kita menggunakan frasa dan istilah yang mereka pahami, dan jawablah setiap pertanyaan yang muncul.

Menjelaskan konsep perceraian kepada balita tentu merupakan perkaran yang tidak mudah.

Apalagi, mereka hanyalah anak-anak yang tidak memiliki banyak kosakata, dan bahkan tidak mengetahui arti perceraian.

Selain itu, mereka tidak mungkin memahami bagaimana sebuah keluarga ketika orangtua-nya tidak bersama.

Perceraian adalah hal sensitif bagi seorang anak, bahkan di segala tingkatan usia. Namun, khusus untuk  anak berusia balita tentu hal itu menjadi lebih sulit.

Orangtua harus sangat berhati-hati tentang bagaimana menyampaikannya kepada anak.

Ada setidaknya tujuh tips yang bisa dicoba oleh orangtua, ketika hendak menyampaikan masalah perceraian kepada balita mereka.

1. Waktu yang tepat

Penting untuk menyimpan semua detail dari perceraian itu untuk diri sendiri, sampai kamu dan pasangan yakin. 

Kamu bisa mulai menjajaki kesepakatan dengan pasangan, untuk menyamakan sudut pandang ketika hendak menyampaikan hal tersebut kepada anak.

Misalnya, agar kamu dan pasangan tak menggunakan kata-kata seperti "kami pikir, kami tidak ingin bersama lagi."

Ingat, ketidakpastian dan ketidaktepatan dalam istilah hanya akan membuat anak bingung. 

Jika kamu berencana meninggalkan rumah dan tinggal di tempat lain, pastikan kamu berkomunikasi setidaknya satu minggu lebih awal.

Sebab, malaikat kecilmu membutuhkan waktu untuk memproses sesuatu; karenanya berkomunikasi beberapa hari sebelum perpisahan akan meredakan kebingungan.

Memang, tidak ada waktu yang sangat tepat untuk memberi tahu anak tentang perpisahan. Namun, ada saat-saat buruk yang harus dihindari.

Pastikan kami tidak memberi tahu kabar itu saat anak sedang berada penitipan anak, atau kelas playgroup, atau sebelum mereka tidur.

Sebab, balita perlu merasa aman segera setelah kabar buruk disampaikan, dengan memberi mereka banyak pelukan dan ketenangan setelahnya.

2. Informasikan saat bersama

Kamu mungkin sedang berselisih paham dengan pasangan, tetapi kamu pun harus menyepakati kapan akan memberitahu kabar tersebut kepada anak.

Jadi, sebelum menyampaikan berita itu, diskusikan apa yang harus diberitahukan kepada anak.

Pastikan, kamu memberi tahu dia tentang perceraian ketika pasangan ada bersama.

Kondisi ini penting, untuk memastikan bahwa anak tidak bingung, sekaligus membantu dia menjaga kepercayaan kepada kedua orangtuanya.

3. Jangan dibuat rumit

Buat semuanya tetap sederhana. Berkomunikasilah dalam istilah sederhana yang dapat dipahami balita.

Ingatlah bahwa mereka baru saja mulai mempelajari kosakata, dan beberapa kata asing tentu dapat membingungkan.

Kamu bisa mulai dengan mengatakan, "ayah akan tinggal di rumah baru" atau "ayah ingin kamu melihat rumah baru ayah".

Akan lebih baik jika kamu bisa meyakinkan si kecil bahwa dia masih dapat melihat kedua orangtuanya.

Selain itu, minta maaf jika anak sempat melihat ayah dan bundanya bertengkar sepanjang waktu. 

Lalu, jelaskan bahwa kalian berusaha melakukan yang terbaik untuknya dan keluarga.

4. Jangan saling menyalahkan

Tidaklah sehat berdebat di depan anak, apalagi sampai menyampaikan bahwa orangtunya akan bercerai.

Juga, jangan menyalahkan pasangan karena menyebabkan perpisahan. Kamu juga tidak boleh membahas secara rinci tentang masalah lain di baliknya. 

Misalnya ada masalah keuangan dan perselingkuhan. Jangan beberkan, Sebab hal itu hanya akan membuat anak bingung dan kesal.

5. Yakinkan, perceraian bukan salah si anak

Ada kalanya,orangtua memutuskan untuk berpisah dan anak-anak lantas menyalahkan diri sendiri meskipun kamu tidak memberi tahu mereka.

Seorang anak berusia dua tahun dapat mengira kamu bercerai hanya karena si anak tak membereskan mainan. Sesederhana itu.

Jadi, lugaslah dan katakan pada si kecil, perceraian ini bukan kesalahan dia. Lalu, beri tahu bahwa keputusan tersebut diambil oleh ayah dan ibu.

Kamu masih bisa sedikit menjelaskan bahwa terkadang mama dan papa tidak akur. Katakan bahwa kamu menyesal hal itu harus terjadi, dan tidak ada bisa dilakukan lagi.  

6. Jangan ungkap rincian

Saat anak ada, pastikan kamu tidak membahas masalah hukum atau keuangan. Semua detail ini bisa langsung masuk ke kepala anak.

Selain itu, akan lebih baik jika kamu tidak berbicara dengan sikap agresif dan amarah.

Rincian tentang siapa yang akan menjaga rumah dan menyimpan harta benda lainnya harus didiskusikan secara terpisah.

7. Paham cara tangani reaksi anak

Jika anak menjadi kesal karena kabar tersebut, beri tahu dia bahwa reaksi itu bisa dimengerti.

Mintalah maaf dan tanyakan apakah ada yang bisa membuat si kecil merasa lebih baik.

Sementara, ada pula anak lain yang membutuhkan waktu lama untuk bereaksi, dan itu juga tidak menjadi masalah.

Beberapa akan mulai bertingkah sangat manis, dan yang lain akan menunjukkan gejala stres dengan cara yang berbeda.

Intinya, apa pun reaksinya, kamu harus berusaha memahaminya dan bersabar.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/02/04/142234820/7-tips-menjelaskan-perceraian-orangtua-kepada-balita

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.