Salin Artikel

Anak Punya Teman Toksik, Orangtua Harus Bagaimana?

KOMPAS.com - Sebagai orangtua, kita mungkin merasa bingung dan khawatir bila mengetahui anak kita terjebak dalam pertemanan yang beracun.

Kita pasti ingin membebaskan anak agar tidak lagi bergaul dengan teman yang toksik, tetapi hal ini sulit dilakukan jika tidak ada tekad dari anak untuk mengakhiri persahabatan itu.

Apabila anak tidak membuat keputusan, maka teman beracun itu akan selalu kembali ke kehidupan mereka.

Dalam menjalin hubungan pertemanan, anak bisa saja mendapatkan teman yang memiliki kecenderungan narsistik, egois, hingga psikopat.

Tanpa sadar, anak bisa jadi berusaha untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan teman yang narsis, kendati teman itu tidak melakukan tindakan yang sama kepada anak.

Seorang teman yang toksik bisa membuat anak merasa lelah secara emosional, kehilangan harga diri karena terus-menerus direndahkan, hingga mengalami perubahan kepribadian.

Untuk mengubah kondisi tersebut, sebagai orangtua kita perlu memutus hubungan pertemanan anak yang beracun.

Bagaimana caranya?

1. Dengarkan cerita anak mengenai teman beracun itu

Akan ada waktu di mana anak ingin mengobrol terbuka kepada orangtua tentang perasaan mereka menghadapi teman yang beracun.

Penting bagi orangtua untuk tidak menghakimi atau melontarkan saran. Sebaliknya, dukung dan dengarkan cerita anak.

Seperti dilaporkan PureWow, banyak orangtua yang berusaha menjelaskan apa tindakan yang harus dilakukan anak untuk mengakhiri persahabatan beracun.

Namun, langkah tersebut sejatinya tidaklah diperlukan karena anak sudah bosan mendengarkan hal itu dari orang lain.

Cobalah berempati pada anak. Selain membuat anak merasa didengarkan dalam waktu lama, anak juga menyadari ada seseorang yang mendukung mereka sehingga mereka mau berjuang untuk meninggalkan teman beracun itu.

2. Menanyakan sesuatu dari informasi yang didapat

Setelah anak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan persahabatan beracun yang dialami, orangtua dapat mengajukan pertanyaan berdasarkan informasi yang diperoleh.

Mengutip Pschology Today, orangtua bisa mengajukan pertanyaan mengenai apa penyebab anak merasa terluka, kesal, atau emosi yang lain.

Dengan melontarkan pertanyaan, anak tidak akan merasa dihakimi. Justru anak menyadari jika orangtua benar-benar mendengarkan, dan anak cenderung mau untuk menjawab pertanyaan kita.

Dari jawaban anak, orangtua dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang seberapa beracun hubungan yang anak miliki dengan temannya.

Tidak hanya itu. Orangtua pun mengerti tindakan yang harus dilakukan untuk membantu anak agar meninggalkan pertemanan yang beracun.

3. Tidak mengkritik teman beracun

Mengkritik teman yang toksik bisa menjadi bumerang dan menyebabkan anak tidak mau membicarakan situasi mereka dengan terbuka.

Menurut EmpoweringParents.com, meskipun anak mengetahui seorang teman beracun, mereka masih suka membela teman tersebut di hadapan orangtua mereka.

Sama seperti hubungan asmara yang beracun, pertemanan yang beracun membuat anak meyakini bahwa mereka tidak dapat berbuat apa pun tanpa teman mereka.

Maka dari itu, hindari mengkritik teman yang beracun kendati secara tidak sadar anak kita mengetahui bahwa teman itu tidaklah baik bagi mereka.

4. Terapkan teknik mirroring

Teknik mirroring bisa diterapkan orangtua untuk membuat anak memahami betapa buruknya mereka diperlakukan dan mereka tidak seharusnya menerima perilaku toksik dari teman.

Seperti diberitakan Insider, teknik mirroring memungkinkan individu untuk melihat sifat beracun pada orang lain, biasanya di tengah-tengah konflik.

Anak yang menjadi korban toxic friendship secara bertahap dapat melihat kurangnya rasa hormat dan dukungan, kendati mereka sudah menghormati dan mendukung teman yang memiliki kepribadian narsistik.

Setelah anak menyadari persahabatan yang dimiliki hanya menguras emosi, maka teman yang beracun tidak lagi menguasai anak.

Anak menjadi lebih mudah untuk melepaskan diri dari pertemanan yang membuat mereka sakit hati.

5. Membantu anak memutus siklus toxic friendship

Apabila anak belum siap mengakhiri hubungan dengan temannya yang beracun, ajak anak melakukan kegiatan bersama orang lain yang memiliki minat sama.

Cara ini akan menggiring anak untuk melihat seperti apa persahabatan yang sehat.

Dilaporkan Psychology Today, jika orangtua dapat mengajak anak terlibat dalam kegiatan tertentu tanpa adanya sang teman yang beracun, maka anak akan terbebas dari hubungan beracun tersebut.

Seiring waktu, anak mulai menyadari betapa bahagianya mereka dengan teman-teman lain yang baik hati dan mendukung dibandingkan seseorang yang ingin menjatuhkan mereka.

Setelah itu, lingkaran pertemanan yang beracun akan terputus ketika anak memahami betapa tidak sehatnya hubungan pertemanan yang mereka jalani di masa lalu.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/01/11/091856720/anak-punya-teman-toksik-orangtua-harus-bagaimana

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.