Salin Artikel

4 Pola Pengasuhan yang Dapat Memengaruhi Psikologi Anak

Namun, sudahkah mereka mengetahui pola pengasuhan neglectful, authoritarian, authoritative, dan permissive?

Kalau belum tahu, pola pengasuhan itu dulunya dikemukakan psikolog klinis, Diana Baumrind, asal University of California di Berkeley pada tahun 1960-an.

Keempatnya disusun setelah Baumrind setelah memperhatikan jenis perilaku anak prasekolah yang berbeda.

Baumrind mendapati adanya hubungan yang erat antara pola pengasuhan orangtua dengan perilaku anak.

Dari situ ia mengembangkan empat pola pengasuhan sendiri dan kini banyak orangtua tertarik untuk mengetahui dampaknya bagi psikologi anak.

Bagaimana cara kerja pola pengasuhan Baumrind?

Setiap pola pengasuhan tentu punya dampak yang berbeda-beda bagi psikologi anak, termasuk neglectful, authoritarian, authoritative, dan permissive.

Nah, dari pengamatan yang dilakukan Baumrind, berikut ini dampaknya pada anak.

Disimak, ya!

1. Neglectful

Anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan ini sebenarnya tidak diperhatikan.

Wakil Presiden Pendidikan Bright Horizons, Rachel Robertson, menyebut orangtua dengan pola pengasuhan ini cenderung lepas tangan alias tidak terlibat.

“Pola ini mungkin disengaja atau tidak disengaja, tergantung orangtuanya. Komunikasi, interaksi dan keterlibatan dalam kegiatan terbatas,” katanya.

Pola pengasuhan neglectful juga ditandai dengan rendahnya kehangatan emosional karena tingkat interaksi yang rendah dengan anak.

Salah satu pendiri Slumberkins, Oriard, juga menuturkan orangtua dengan pola pengasuhan neglectful cenderung memilih teknik yang keras saat mendisiplinkan anak.

Jika dibiarkan anak cenderung memiliki banyak masalah saat tumbuh dewasa. Seperti, masalah kesehatan mental yang terkait dengan depresi dan kecemasan.

Tida menutup kemungkinan keterampilan sosial anak juga buruk dan rentan terhadap penyalahgunaan zat di masa depan.

2. Authoritarian

Pola pengasuhan ini menitiberatkan pada perilaku anak yang harus sesuai dengan keinginan dan perintah orangtuanya.

“Pola ini dianggap ketat dan disiplin. Terjadi kurangnya fleksibilitas dan ada ekspektasi kepatuhan yang tinggi,” terang Robertson.

Pola pengasuhan authoritarian disebut Robertson juga dibarengi dengan rendahnya kedekatan emosional dan tingginya tuntutan.

Di sini, orangtua berusaha mengendalikan perilaku dan perkembangan anak mereka sehingga terkesan sangat disiplin.

Walau anak dapat dikontrol, sayangnya anak akan sulit menerima lingkungan sosial dan menderita gangguan mental saat tumbuh.

Ia mencatat bahwa kombinasi pola pengasuhan ini dengan rendahnya kehangatan emosional dan tingginya tuntutan dapat terasa sangat ketat dan dingin.

“Hal itu disebabkan tuntutan tinggi tanpa iklim emosional yang hangat menciptakan kontrol perilaku dan juga kontrol psikologis," ujar Oriard.

Ia menyampaikan, kontrol psikologis jauh lebih keras dan menggunakan rasa malu dan rasa bersalah untuk memanipulasi anak.

Bagaimana tidak, si buah hati akan dihormati, didengarkan, dan diberi pilihan dengan kewibawaan orangtuanya.

“Orangtua authoritative menetapkan harapan yang jelas dan memberikan struktur dan rutinitas tetapi tetap fleksibel,” jelas Robertson.

Jadi, tidak mengherankan bila pola pengasuhan satu ini adalah yang paling bermanfaat bagi perkembangan anak.

Di sisi lain, orangtua turut menciptakan iklim emosional yang hangat ditambah dengan tuntutan dan kontrol yang masuk akal.

Orangtua juga bisa merasakan manfaat positif karena dipandang sebagai sosok yang suportif dan perhatian oleh anaknya.

“Anak bisa menjelaskan alasannya dan mendengarkan sudut pandang anak orangtua, bahkan jika anak tidak nurut,” tambah Robertson.

Sementara Oriard menerangkan bahwa ekspektasi yang tinggi dalam pola pengasuhan itu jika digabungkan dengan hangatnya iklim emosional membuat anak lebih mampu berkembang.

Manfaat pola pengasuhan itu adalah anak menganggap hubungannya dengan orangtua lebih sebagai teman.

“Hanya ada sedikit arahan atau aturan dan anak diberi banyak kebebasan dalam sebagian besar keputusannya,” ujar Robertson.

Karena faktor itulah dampak dari pola pengasuhan permissive membuat anak menjadi tidak disiplin dan tidak konsisten.

Pola asuh permissive melibatkan iklim emosional yang hangat tetapi tuntutan dan kontrol yang rendah.

Oriard mencatat, pola pengasuhan permissive cenderung membuat anak memiliki masalah perilaku dan dengan lingkungan sosialnya.

“Mereka mungkin juga sedikit kesulitan di sekolah atau di lingkungan di mana ada aturan yang harus diikuti,” tambah Oriard.

Seperti ketiga lainnya, pola pengasuhan tersebut tidak diperbaiki. Alasannya, anak mempelajari ketidakkonsistenan yang diajarkan orangtua.

Orangtua hanya bisa mengajarkan sedikit demi sedikit perubahan baik kepada anaknya, misal dengan mengajarkan waktu tidur yang konsisten.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/05/14/073000820/4-pola-pengasuhan-yang-dapat-memengaruhi-psikologi-anak

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.