Salin Artikel

Dampak Fisik dan Psikis yang Dirasakan Orangtua Saat Kehilangan Anak

 

Situasi tersebut bahkan dapat memberikan dampak pada perubahan biologis dan psikologis.

Menurut Deborah Carr, Ketua Departemen Sosiologi di Universitas Boston, dampak tersebut dirasakan pada orangtua karena kehilangan anak memberikan begitu banyak kesedihan dan menyakitkan.

"Kematian seorang anak dianggap sebagai satu-satunya penyebab stres terburuk yang bisa dialami seseorang," katanya.

Ia menjelaskan, orangtua secara umum dan ayah secara khusus merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan anaknya

"Jadi, ketika mereka kehilangan anak, mereka tidak hanya kehilangan orang yang dicintai, tapi juga kehilangan begitu banyak janji yang ingin diwujudkan," katanya sebagaimana dilansir Fatherly, Sabtu (4/6/2022).'

Dalam banyak hal, kesedihan yang dirasakan orangtua bisa meninggalkan trauma yang lebih intens.

Hal itu terjadi bersamaan dengan hilangnya kenangan manis dan harapan di kehidupan mendatang yang faktanya sulit dilepaskan.

Dengan demikian, proses dukacita akan jauh lebih lama.

Begitu pula potensi trauma berulang juga dapat dirasakan ketika orangtua mengalami suatu hal yang mengingatkan pada anaknya yang sudah meninggal dunia.

"Kematian seorang anak membawa berbagai tantangan berbeda bagi setiap orang," kata Fiona MacCullum, seorang profesor dari University of Queensland.

Ada yang kemudian bisa melanjutkan hidup dan menghadapi kehilangan itu, sementara yang lain masih berjuang menemukan makna dalam hidup.

Dampak biologis setelah kematian anak

Riset yang dilakukan para peneliti Arizona State University di tahun 2018 memeriksa kondisi kesehatan dan berbagai fungsi fisik pada 461 orang tua yang kehilangan anak dalam 13 tahun terakhir.

Hasil riset tersebut menunjukkan adanya penurunan kondisi kesehatan serta gangguan pemulihan.

Respons kesedihan, trauma kehilangan anak dapat memicu gejala fisik, seperti sakit perut, kram otot, sakit kepala bahkan sindrom iritasi usus besar.

Di samping itu, sejumlah penelitian telah menemukan hubungan antara kesedihan yang belum pulih sepenuhnya dengan gangguan kekebalan, kanker dan perubahan genetik jangka panjang.

Salah satu yang mengejutkan dari kondisi itu adalah broken-heart syndrome atau sindrom patah hati.

Sindrom ini digambarkan pada suatu kondisi yang mirip seperti serangan jantung.

Beberapa gejala yang muncul adalah nyeri dada, peningkatakn enzin jantung pada hasil lab, hingga elevasi segmen ST pada elektrokardiografi.

"Sebagai reaksi terhadap stres emosional atau fisik, respons alami tubuh dapat melepaskan katekolamin."

"Hormon ini juga dikenal hormon stres yang membuat otot jantung melemah hingga pingsan." tutur para peneliti.

Dampak psikologis bagi orangtua

Dari kejadian itu, sebagian besar peneliti lalu mencari tahu respons psikologis terhadap kematian yang berfokus pada kehidupan sebagai pasangan suami-istri dan orangtua.

Riset tahun 2015 dilakukan terhadap 2.512 orang dewasa yang berduka kehilangan seorang anak.

Hasilnya, 68 persen tidak menunjukkan tanda depresi namun 11 persen lainnya mengaku awalnya mengalami gejala tersebut hanya saja kondisinya membaik seiring waktu.

Sementara 7 persen dari orangtua tersebut merasa depresi sebelum kehilangan (melihat anaknya sakit keras sebelum meninggal) dan terus berlanjut.

Dari data tersebut hanya 13 persen dari peserta yang mengalami kesedihan kronis dan depresi secara klinis yang berlangsung lama.

Peneliti juga menemukan bahwa dampak psikologis seperti kesedihan sulit sekali disembuhkan, bahkan prosesnya memakan waktu yang cukup panjang.

Sebuah riset sebelumnya di tahun 2008 menemukan bahwa setelah kehilangan seorang anak, orangtua melaporkan lebih banyak gejala depresi, kesejahteraan yang lebih buruk serta mengalami masalah kesehatan.

Selain itu, masalah lain muncul akibat dampak dari depresi yaitu masalah perkawinan.

"Tahun pertama setelah kehilangan anak, orang tua berada pada peningkatan risiko bunuh diri dan segala sesuatunya akibat depresi berat hingga kesedihan yang rumit," ujar peneliti.

Untuk diketahui, kesedihan yang rumit berbeda dari kesedihan biasa.

Gejalanya ditandai dengan kesedihan yang lebih intens sampai merasakan sensasi "mati rasa" yang berpotensi menggangu kemampuan seseorang dalam berpikir jernih.

"Kemungkinan terburuk akan mengalami kecenderungan bunuh diri, psikosis atau mengembangkan gangguan kesehatan mental dan eating disorder," ujar Kirsten Fuller

Ia adalah seorang dokter dan penulis klinis di pusat perawatan Center of Discovery, AS yang kerap menghadapi kasus serupa.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/06/04/165455620/dampak-fisik-dan-psikis-yang-dirasakan-orangtua-saat-kehilangan-anak

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.