Kompas.com - 22/05/2013, 14:00 WIB
EditorDini

KOMPAS.com  - Dalam hidup berumah tangga, kadang pertengkaran tak bisa dihindarkan lagi. Namun, bagi Anda yang sudah memiliki anak, usahakan untuk tidak bertengkar di depan anak-anak.

"Apa pun alasan pertengkaran Anda, tahan emosi dan amarah ketika sedang berada di depan anak," ungkap psikolog Keluarga, Anna Surti Ariani, Psi, saat talkshow "Berkomitmen untuk Kebersamaan Keluarga yang Bermakna" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun, ketika sedang merasa emosi dengan pasangan sementara masih ada anak-anak di sekitar Anda, sebaiknya turunkan ego dan emosi, dan ajak pasangan untuk pindah ruangan. Hal ini berfungsi untuk "merahasiakan" pertengkaran dari anak-anak.

"Kasihan anak-anak terutama yang masih kecil, ketika mereka harus lihat orangtuanya bertengkar. Bertengkar di depan anak-anak secara tak langsung akan memengaruhi psikologi anak, dan menimbulkan rasa takut pada orangtuanya," tambahnya.

Akan tetapi bagaimana jika saat bertengkar tiba-tiba anak masuk dan mendengar pertengkaran Anda tanpa sengaja? Ketika hal ini terjadi, Anna menyarankan untuk segera menghentikan pertengkaran Anda saat itu dan menjelaskannya kepada anak. Anda boleh saja bercerita atau curhat sedikit tentang apa yang terjadi, tetapi jangan sampai menjelek-jelekkan pasangan Anda.

Misalnya ketika sedang bertengkar karena suami Anda boros, hindari curhat ke anak dengan kalimat seperti ini: "Iya, mama dan papa memang sedang bertengkar, habisnya si papa boros banget, sukanya beli barang-barang nggak penting dan mahal lagi. Dasar papa boros".  Lebih baik, Anda curhat ke si kecil dengan kalimat yang lebih bijak. "Mama dan papa memang sedang ada masalah keuangan.Tapi doakan ya, semoga masalahnya cepat selesai dan baik-baik saja".

Anna mengungkapkan bahwa curhat secara negatif dengan cara menjelek-jelekkan pasangan atau mengumbar kesalahannya pada anak, secara tak langsung akan menanamkan kebencian anak terhadap orang tersebut. Melalui kata-kata negatif ini, pikiran bawah sadar anak akan berubah jadi negatif dan "teracuni" sehingga rasa sayang kepada ayahnya bisa-bisa berubah menjadi kebencian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada dasarnya cerita masalah dan pertengkaran Anda dengan pasangan itu boleh saja, namun cermati lagi pemilihan kata dan isi ceritanya agar tak 'meracuni' anak. Anda pasti tak mau kan, kalau anak benci ayahnya?" sarannya.

Lalu, bolehkah menceritakan masalah sebenarnya dengan anak Anda yang sudah remaja?

Anna menyarankan untuk juga tidak menceritakan keseluruhan masalah ini. "Anak remaja punya masalahnya sendiri, jadi cerita masalah Anda yang terlalu berat akan membebani mereka juga. Anak remaja juga punya keterbatasan untuk menerima dan mendengarkan cerita Anda," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X