Kompas.com - 23/01/2018, 15:25 WIB
Logo Twitter AFP PHOTO/LOIC VENANCELogo Twitter

KOMPAS.com - Banyak dari kita menganggap sudah memilih apa yang perlu dibagikan di media sosial dan mana yang disimpan untuk sendiri. Tapi, berdasarkan riset terbaru, bisa saja kita berbagi terlalu banyak. Termasuk hal mendalam tentang kesehatan mental kita.

Menurut hasil penelitian terbaru, dari pemilihan kata yang dipakai seseorang saat "berkicau" di Twitter, bisa menunjukkan apakah ia memiliki depresi atau pun gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Orang-orang yang depresi ternyata lebih sering menggunakan kata-kata yang justru dikategorikan positif, seperti "bahagia", "pantai' dan "foto" atau kata-kata yang lebih negatif seperti "kematian", "tidak" dan "tidak pernah".

Sebuah tim riset menganalisa data dari pengguna media sosial Twitter menggunakan pendekatan algoritma untuk melihat apakah postingan di Twitter bisa memprediksi tingkat depresi dan PTSD. Ditemukan bahwa 9 dari 10 prediksi algoritma tersebut adalah benar.

Tim peneliti menganalisa data Twitter dari 204 pengguna, 105 menderita depresi klinik dan 99 tanpa depresi. Ini untuk melihat apakah perbedaan bahasa yang dipakai saat menulis "cuitan" bisa membantu mendeteksi depresi.

Peneliti menggunakan dua model penelitian yang berbeda. Pertama, model penggolongan (memisahkan tweet sehat dan depresi atau membedakan pengguna sehat dan pengguna yang mengalami PTSD).

Kedua, mengidentifikasi indikator-indikator kondisi kesehatan mental yang dimunculkan setiap waktu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Andrew Reece, peneliti postdoctoral dari Harvard University yang melakukan riset tersebut, menyampaikan bahwa dengan model yang terakhir, para peneliti mampu menggambar lini masa dari awal mula depresi, bagaimana depresi itu berjalan dan masa penyembuhan, hanya berdasarkan bahasa-bahasa yang digunakan orang-orang pada tweet mereka.

Walau begitu, menurut dia metode penelitian ini memiliki kekurangan. Salah satunya adalah peneliti hanya bisa mengamati pengguna Twitter serta yang mau memberi tahu data sejarah kesehatan mental mereka.

Artinya, penelitian belum bisa digeneralisasikan kepada mereka yang kurang terbuka tentang informasi pribadinya.

Reece mengatakan, banyak orang melanjutkan ikut dalam penelitian saat mereka diminta informasi soal media sosial mereka. Ia kemudian memikirkan apakah model penelitian ini baik digunakan untuk depresi pada orang-orang ekstrovert atau pada orang yang menaruh kepercayaan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.