BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan #gensehatcerdas

Mau Mulai Kerja di "Startup", Waspada Sejumlah Hal

Kompas.com - 21/04/2018, 12:44 WIB
Ilustrasi para karyawan muda yang sedang berdiskusi. ThinkstockIlustrasi para karyawan muda yang sedang berdiskusi.

KOMPAS.com - Mendengar seseorang kerja di perusahaan rintisan atau startup bukan lagi hal yang asing. Startup pun sering pula jadi incaran para pencari kerja termasuk fresh graduate. Namun, perlu diperhatikan, bekerja di startup memiliki beberapa risiko yang berbeda dengan perusahaan besar yang sudah stabil.

Menurut Profesor dari Harvard Business School, Len Schlesinger, karyawan startup perlu waspada terhadap perusahaan yang ditempatinya. “Ketika Anda antusias dengan peluang yang ada, biasanya Anda suka melebih-lebihkan daya tariknya dan meremehkan risikonya,” ujar Schlesinger dikutip dari hbr.org, Senin (16/5/2016).

Salah satu alasan bekerja di startup adalah mencari pengalaman awal dan mengisi tangga karier. Melansir dari themuse.com, kebanyakan pekerja baru di startup berharap bahwa tempat bekerjanya tersebut lebih dapat mendukung karier dan resume mereka dibandingkan fokus berkontribusi ke perusahaan itu.

Ilustrasi StartupThe Next Web Ilustrasi Startup
Padahal, di balik itu, startup biasanya lebih memilih memiliki karyawan yang aktif, fleksibel, dan mengutamakan perusahaan. Jika tidak, maka karyawan harus siap putus kontrak.

Di mana pun, intinya pasti ada untung rugi. Berikut ulasan lebih lanjut mengenai beberapa hal lain yang perlu diketahui saat ingin bekerja di startup.

Pertama, karyawan startup harus bisa nyaman dengan perubahan. Bukan sekali, dua kali, melainkan perubahan yang konstan terjadi dan menuntut mereka menjadi karyawan yang fleksibel dan serba bisa.

Apabila di perusahaan besar, struktur perusahaan dan prosedur karyawan sehari-sehari umumnya cenderung sama. Sementara itu, di startup, hal-hal seperti perencanaan proyek, job desk, dan jabatan lebih sering berubah. Bahkan, seorang karyawan bisa mengemban lebih dari dua job desk.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Iklim yang sering berubah seperti itu kadang terlihat berantakan. Namun, seseorang yang menjadi karyawan startup harus bisa profesional, tetap termotivasi, dan tak mudah goyah atas kondisi tersebut.

Dengan demikian, ia dapat dilihat sebagai karyawan yang andal dan kesuksesan ke depan pun dapat menanti.

Selanjutnya, karyawan startup harus waspada terhadap risiko. Salah satunya adalah risiko perusahaan bangkrut atau diakusisi.

Karenanya, karyawan startup harus melek terhadap situasi perusahaan. Sebagai pegawai startup, ketahui apa yang menjadi keuntungan sekaligus kendala dalam startup. Lalu, baca juga berita-berita terkait investor startup dan bisnisnya. Dengan begitu, Anda bisa siap-siap apabila startup yang ditempati mengalami kondisi yang buruk.

Selanjutnya, startup pun identik dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak, 50-100 orang. Umumnya, waktu kerja karyawan bukan model nine to five (09.00 sampai 17.00) dan periode bekerja hariannya juga kerap lebih lama dari perusahaan yang sudah stabil supaya bisa mendukung produktivitas.

Ilustrasi mata lelahRostislav_Sedlacek Ilustrasi mata lelah
Akibat jam kerja yang sering berlebih, karyawan startup berisiko mudah kelelahan dan sulit konsentrasi. Kombinasi gaya hidup yang buruk dan faktor psikologis pun bisa turut memperburuk kelelahan ini.

Melansir dari mayoclinic.org, Kamis (11/1/2018), efek kelelahan berkaitan dengan kebiasaan makan yang tak sehat, kekurangan tidur dan aktivitas fisik berlebih. Kelelahan tersebut mengarah ke kondisi yang membuat diri mudah lupa, sulit mengambil keputusan, dan jatuh sakit. Ujung-ujungnya, pekerjaan dapat terganggu.

Ketika kelelahan karena bekerja ekstra itu, maka ada beberapa cara untuk mengatasinya. Selain beristirahat sejenak, biasakan pula konsumsi makanan dengan bahan alami agar kesehatan tubuh terjaga.

Salah satunya dengan minum ayam atau konsumsi ekstrak sari pati ayam. Sari pati ayam merupakan ekstrak yang terbuat dari proses khusus menggunakan metode double boiled.

Proses tersebut memisahkan ekstrak ayam dari lemak dan kolesterolnya sehingga memproduksi ekstrak sari pati ayam yang mengandung asam bio amino peptide dan dapat langsung dikonsumsi.

Manfaatnya, metabolisme serta kadar oksigen dalam darah yang mengalir ke otak meningkat sehingga mampu menghasilkan energi dan mengembalikan konsentrasi. Selain itu, sari pati ayam turut membantu pelepasan asam laktat dan asam amonia yang berfungsi mempercepat pemulihan kelelahan otot.

Hasil studi tentang efek sari pati ayam untuk pemulihan dari kelelahan dalam jurnal US National Library of Medicine-National Institutes of Health (www.ncbi.nlm.nih.gov) menunjukkan, tingkat kortisol responden yang mengonsumsi sari pati ayam kembali ke tingkat optimal dibandingkan kelompok responden yang diberi minuman lain (plasebo). Dampaknya, stres pun dapat berkurang.

Maka dari itu, minum ayam bisa menjadi cara memelihara kesehatan dan mengoptimalkan kembali energi tubuh, termasuk bagi karyawan startup yang sering lembur. Jika ingin tahu lebih jauh, klik halaman ini.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya