Kompas.com - 06/06/2018, 10:01 WIB
Sejumlah anak bermain di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSejumlah anak bermain di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah sampah plastik sudah semakin mengkhawatirkan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam kurun waktu 2002-2016, terjadi peningkatan komposisi sampah plastik dari 11 persen menjadi 16 persen.

Presentase komposisi sampah di kota besar bahkan mencapai sekitar 17 persen.

Masalah ini memang merupakan tugas seluruh pihak. Namun, bisa dimulai dari kita sendiri.

"Jadi, cita-cita kita bersama, 30 persen pengurangan sampah di 2025 artinya semua orang Indonesia harus bisa mengurangi sampahnya di sumber mereka sendiri. Di rumah, sekolah, kantor," Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik pada diskusi pengelolaan sampah plastik oleh Danone Aqua di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Sementara itu, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri menilai sampah plastik sudah merupakan masalah lama dan edukasi harus terus dilakukan.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah sampai kapan edukasi itu harus terus dilakukan jika tak ada perubahan.

"Kadang kalau kita melakukan (mengelola sampah), orang lain tidak melakukan gimana. Harusnya kita dipaksa. Karena kalau menunggu perilaku terbentuk akan sulit," kata Prof. Enri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Warga Boyolali Sulap Sampah Plastik Jadi BBM

Pegiat Isu Lingkungan Nadine Chandrawinata, Direktur of Sustainable Development Danone Aqua Karyanto Wibowo, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, Kepala Subdirektorat Barangdan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik, serta Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim, Kementerian Koordinator Maritim, Nani Hendiarti (paling kiri ke kanan) dalam diskusi pengelolaan sampah plastik oleh Danone Aqua di Jakarta, Selasa (5/6/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Pegiat Isu Lingkungan Nadine Chandrawinata, Direktur of Sustainable Development Danone Aqua Karyanto Wibowo, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, Kepala Subdirektorat Barangdan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik, serta Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim, Kementerian Koordinator Maritim, Nani Hendiarti (paling kiri ke kanan) dalam diskusi pengelolaan sampah plastik oleh Danone Aqua di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Mulai dari hal kecil

Kata siapa pengelolaan sampah plastik tak bisa dimulai dari diri sendiri? Setidaknya, kita mulai dengan perilaku membuang sampah makanan misalnya saat kita berada di sebuah acara.

Biasanya, kata Prof. Enri, masyarakat cenderung manja dan setelah makan hanya menaruh piring makanan tanpa membuang sisa makanannya.

"Enggak pernah secara sadar setelah makan menaruh piring di pojok, kalau perlu sebelumnya makanan sisanya disisihkan. Sampah plastik dimana, yang lain dimana. Harus secara sadar dimulai," kata Prof. Enri.

Hal ini sebetulnya bisa mulai dibiasakan. Menurutnya, perlu ada yang mengorganisir misalnya lewat pengumuman yang diberikan oleh pengisi acara. Sehingga tamu yang menyantap hidangan bisa membuang sisa makanan di tempat yang telah disediakan.

Nadine Chandrawinata berpose usai menghadiri acara #BijakBerplastik di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2018).KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Nadine Chandrawinata berpose usai menghadiri acara #BijakBerplastik di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2018).
Pemilahan sampah sudah diterapkan secara tegas di beberapa negara, seperti Jepang, Taiwan, atau Korea. Perilaku tersebut bahkan sudah sampai tingkat kesadaran masyarakat.

Prof. Enri mencontohkan, kebiasaan memilah sampah oleh penghuni apartemen. Mereka yang tidak melakukannya bahkan bisa ditegur oleh tetangga apartemen.

"Kalau di negara lain kita tinggal di apartemen, kalau tidak memilah tetangga sebelah bisa marah jadi terpaksa melakukan. Kalau di sini, semua enggak melakukan ya kita enggak lakukan," tuturnya

Pegiat isu lingkungan sekaligus aktris Nadine Chandrawinata memiliki cara lain untuk mengurangi sampah plastik.

Sebagai penyelam, ia kerap ikut memunguti sampah-sampah yang menyangkut di terumbu karang atau mengambang di laut.

Namun terlepas dari kegiatan menyelamnya, ia juga menerapkan disiplin tersebut di rumah. Salah satunya dengan memisahkan sampah organik dan anorganik serta tak melapisi temat sampah dengan kantong plastik untuk meminimalisasi konsumsi plastik.

Hal itu diakuinya tidak mudah.

"Butuh disiplin untuk memindahkan sampah-sampah kecil di kamar, dapur dan ruangan lain ke tempat sampah besar di luar biar enggak bau dan ada binatang," kata Nadine.

Baca juga: Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

Sampah plastik menurutnya memang pasti ditemukan di mana-mana. Namun, kita sebagai masyarakat bisa ikut mengurangi.

Contohnya saat mengunjungi supermarket atau minimarket. Kita bisa mengurangi konsumsi plastik kita, misalnya tadinya tiga lapis menjadi selapis, atau dengan membawa kantong belanja sendiri.

Membawa tempat minum untuk mengurangi penggunaan plastik saat kita membeli minum di luar juga dapat dijadikan kebiasaan baru.

Disiplin dalam mengelola sampah diterapkan Nadine pada para keponakannya. Biasanya, para keponakannya akan buang sampah plastik sembarangan saat bermain.

"Aku selalu minta bersihkan supaya mereka tahu berapa banyak sampah yang mereka buat," kata wanita yang menyabet gelar Putri Indonesia 2005 itu.

Nadine menambahkan, setiap orang harus memiliki sikap disiplin dan alasan masing-masing untuk tak membuang sampah sembarangan. Misalnya, menyimpan sampah di tas jika sedang berada di luar dan tak menemukan tempat sampah, atau tidak melempar sampah ke luar kendaraan.

"Yang paling kita suka lupa, di bumi makhluk hidup enggak hanya manusia. Saat kita buang sampah, ada makhluk lain yang merasakan tindakan kita. Kita penghasil (sampah) dan penghancur bumi ini tapi kita juga bisa jadi penyelamat," tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.