Kompas.com - 06/11/2018, 16:55 WIB

“Tahun 2016 saya buat Exodos. Untuk mencari karakter dan develop barang sampai jadi itu butuh satu tahun."

"Karakternya enggak gampang, karena ingin menyatukan selera saya dengan pasar,” ungkap dia.

Bagi Gally, hal itu merupakan bagian dari brand image.

Bagaimana menciptakan produk buatannya, bukan asal jiplak. Karena itu pula, sampai sekarang, ia merasa belum mendapatkan hasil maksimal.

Ia terus mendesain produk-produk baru. Kini sudah ada 40 desain yang diciptakannya.

Setiap desain biasanya tidak dibuat banyak. Hal itu merupakan bagian dari strategi dalam upaya memasarkan produknya.

“Selain itu saya orangnya tidak cukup puas. Makanya saya terus mendesain dan mendesain,” ungkap dia.

Sejak produk ini dilepas masif ke pasaran 2017 lalu, animo masyarakat dalam dan luar negeri sangat tinggi.

Baca juga: Dibuat Terbatas, Sepatu Peta Indonesia Exodos 57 Langsung Sold Out

Baru satu tahun, permintaan pasar mencapai 1.300-1.500 pasang per bulan.

Permintaan itu datang dari berbagai daerah di Indonesia, serta beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, Swis, Kanada, Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.