Kompas.com - 21/05/2019, 20:31 WIB
Tukang Cukur Pinky Wallace, Lily Zhai, dan Cherry Chung di Handsome Factory Barber Shop di Wan Chai, Hong Kong. South China Morning Post/Jonathan WongTukang Cukur Pinky Wallace, Lily Zhai, dan Cherry Chung di Handsome Factory Barber Shop di Wan Chai, Hong Kong.

KOMPAS.com - Saat memasuki barbershop bernama "Handsome Factory" di Wan Chai, Hong Kong, pengunjung seperti memasuki mesin waktu dan dibawa ke tahun 1950-an. Suasana retro memang begitu kental di tempat cukur para pria ini.

Lantainya bermotif hitam dan putih seperti papan catur. Ornamen yang ada di barbershop juga kental dengan nuansa vintage, seperti mug berlapis bahan enamel peninggalan zaman kakek-nenek kita dulu.

Di sebuah sudut juga terlihat kulkas Smeg berwarna merah terang dengan desain klasik. Di dalamnya terdapat botol-botol Coca Cola, meski dengan model masa kini.

Akan tetapi, bukan suasana masa lalu yang membuat Handsome Factory dikenal orang. Salah satu yang kerap menjadi perbincangan mengenai barbershop ini adalah tiga tukang cukur atau barber dengan kemampuan mumpuni, yang ketiganya perempuan.

Tiga tukang cukur itu adalah Cherry Chung (24), Lily Zhai (31), dan Pinky Wallace (34). Pelanggan mengetahui bahwa mereka dilayani oleh para tukang cukur perempuan, dan tak ada yang mengeluhkan itu.

"Ketika seorang pelanggan mengetahui nama-nama tukang cukurnya, yakni Cherry atau Pinky, ia otomatis paham jika tukang cukur tersebut seorang perempuan," ujar salah satu pendiri Handsome Factory, Annie Lee, dilansir dari South China Morning Post (SCMP) pada Selasa (21/5/2019).

Baca juga: Cerita Richdjoe, Bangun Barbershop dengan Merekrut Anak Jalanan...

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lee menyampaikan bahwa seksisme dalam "dunia percukuran" tak begitu dirasa di Hong Kong. Dia memahami jika masalah itu mungkin masih ada di negara lain, terutama Amerika Serikat.

"Untungnya persoalan tukang cukur perempuan ini bukan masalah besar di Hong Kong," ujar Lee.

Menurut Annie Lee, ketika ia bekerja sebagai tukang cukur di Amerika, ia mendengar komentar pelanggan yang meragukan kemampuan memotong yang dimilikinya.

"'Bisakah Anda memotong?' atau 'Saya pikir barbershop punya tukang cukur untuk pria'. Sangat mengejutkan melihat bahwa ini adalah toko tukang cukur kontemporer yang ditujukan untuk kaum muda, yang memperkerjakan wanita bertato dari ujung rambut sampai ujung kaki dan tentunya sangat mahir dalam menangani pisau cukur," ujar Lee.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.