Kompas.com - 27/03/2020, 15:01 WIB
Ilustrasi pria berjenggot tipis dan panjang ajr_imagesIlustrasi pria berjenggot tipis dan panjang

"Tetapi seseorang yang mungkin terinfeksi harus berada dalam kontak sangat dekat, dan itu akan membuat mereka berisiko dari semua mekanisme lain."

John Swartzberg, profesor klinis emeritus di UC Berkeley School of Public Health yang mempelajari penyakit menular, juga ragu mengaitkan antara jenggot dan Covid-19 karena kurang bukti ilmiah.

Literatur ilmiah tentang topik yang berdekatan, berfokus pada bakteri, dan bukan sesuatu seperti virus corona.

"Ada penelitian tentang jenggot yang benar-benar menunjukkan penurunan risiko bakteri dari jenggot dibandingkan kulit yang terkena pisau cukur pada pria," katanya.

Pedoman yang harus kita lakukan saat pandemi --seperti telah kita dengar berulang kali-- adalah memprioritaskan kebersihan dan mencuci tangan.

"Menyentuh jenggot atau wajah kita dengan tangan yang tidak dicuci akan menjadi masalah. Penting untuk berhati-hati dengan mencuci tangan dan mengurangi kontaminasi permukaan."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.