“Quarantine Shaming” Aksi Mempermalukan Orang Saat Wabah Covid-19

Kompas.com - 30/03/2020, 11:27 WIB
Warga menggunakan masker dan sarung tangan di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2020). PT MRT Jakarta (Perseroda) mengimbau para penumpang untuk menjaga jarak aman dengan penumpang lainnya, minimal dalam radius satu meter. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga menggunakan masker dan sarung tangan di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2020). PT MRT Jakarta (Perseroda) mengimbau para penumpang untuk menjaga jarak aman dengan penumpang lainnya, minimal dalam radius satu meter.

KOMPAS.com- Orang yang tetap beraktivitas keluar rumah selama kebijakan pembatasan sosial atau nekat memakai sarung tangan lateks untuk berbelanja kini mendapat kritikan sebagai orang yang egois, arogan, atau membahayakan diri dan lingkungan.

Kritikan itu diistilahkan dengan quarantine shaming.

Kritikan terhadap orang yang tidak patuh pada aturan untuk tetap tinggal di rumah juga beredar di media sosial. Bahkan, belakangan ini ada tagar #COVIDIOTS yang ditujukan pada mereka yang masih membuat acara kumpul-kumpul.

Dalam beberapa hari terakhir juga viral video dua orang memakai hazmat suit (alat pelindung diri) yang biasa dipakai tenaga medis, sedang berbelanja ke supermarket. Kedua orang itu mungkin memakai pakaian tersebut untuk melindungi diri dari virus.

Tak ayal, cercaan pun ditujukan kepada kedua orang yang dianggap egois, mengingat saat ini para tenaga medis di seluruh daerah sedang mengeluhkan kekurangan APD.

Baca juga: Risiko Tertular Tinggi, Tenaga Medis Tangani PDP Covid-19 dengan Jas Hujan hingga Baju Operasi

Psikolog sosial mengatakan, upaya mempermalukan orang lain seperti itu bisa memainkan peran penting untuk mendorong pembentukan norma-norma sosial, terutama ketika norma dengan cepat berubah akibat wabah virus corona.

Kendati begitu, menjaga jarak sosial juga dianggap sulit, terutama ketika ada saran yang membingungkan tentang aturan kapan dan bagaimana orang boleh ke luar rumah.

Saran dari otoritas juga seringkali membingungkan. Di satu sisi kita diminta untuk tetap tinggal di rumah. Tapi di sisi lain, kantor tidak meliburkan karyawannya . Kita diminta untuk menjaga jarak sosial, tetapi berdesak-desakan di kendaraan umum.

Baca juga: Viral Keluarga Bongkar Plastik Jenazah Pasien Berstatus PDP di Kolaka, Ini Fakta Lengkapnya

Apakah mempermalukan orang lain efektif?

Mempermalukan orang alias public shaming lain bisa rumit dan kontroversial. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa orang yang menjadi korban dipermalukan online bahkan sampai kehilangan pekerjaan atau menerima ancaman kematian.

Walau belum ada laporan tentang upaya mempermalukan yang ekstrem terkait wabah corona, tetapi sebagian orang merasa mereka menjadi target secara tidak adil. Sebagian orang itu akhirnya minta maaf dan menghapus postingan mereka.

Pengendara ojek daring melintasi jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (29/3/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan pembatasan aktivitas di Ibu Kota dengan memperpanjang masa tanggap darurat COVID-19 hingga 19 April 2020 sehubungan dengan meluasnya pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pras.ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT Pengendara ojek daring melintasi jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (29/3/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan pembatasan aktivitas di Ibu Kota dengan memperpanjang masa tanggap darurat COVID-19 hingga 19 April 2020 sehubungan dengan meluasnya pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pras.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber BBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X