Kompas.com - 03/06/2020, 22:37 WIB

Perilaku adaptasi seseorang di masa pandemi

Annastasia menuturkan, beberapa orang terjebak dengan dirinya melihat "tembok" sebagai hambatan permanen.

"Seolah tidak ada matahari di balik tembok tersebut. Mereka merasa takut, cemas, tidak berdaya. Mereka anggap pembatasan sosial itu membatasi segala hal dalam hidup mereka," tuturnya.

"Bayangan bahwa hidup tidak lagi seperti dulu sangat menakutkan. Mereka sulit menerima adanya pikiran selain apa yang mereka pahami."

Namun, tidak sedikit orang menilai bahwa di situasi pandemi sangat penting untuk belajar hal baru, hanya saja mereka takut mengambil risiko, kata Annastasia.

"Banyak sekali pertimbangan saat akan bertindak. Akhirnya mereka menunda tindakan mereka."

"Saya lihat, di masa sekarang, orang mulai menawarkan belajar online, digital marketing. Keinginan untuk keluar dari Panic Zone sangat besar, namun mereka belum berada di Comfort Zone karena masih mencari petunjuk yang cocok."

Baca juga: Skill Kerja yang Dibutuhkan demi Bertahan di Tengah Pandemi

Ia menyarankan agar kita bertanya kepada diri sendiri: "Selama tiga bulan masa pandemi, apakah sudah ada sesuatu yang saya lakukan?"

"Saat ini kita masih berada di tahap mencari siasat untuk menghilangkan kejenuhan. Ketika kita menghadapi tembok, nikmati saja. Tidak banyak orang yang mampu menikmati tembok ini," ujar dia.

Di samping itu, Annastasia menyebut perlunya "menikmati" masa pandemi dengan menciptakan ide kreatif.

Annastasia menjelaskan lima proses yang akan membantu kita menghasilkan kreativitas, seperti yang ia kutip dari buku Wired to Create karangan Scott Barry Kaufman dan Carolyn Gregoire:

1. Proses kreatif selalu berantakan pada awalnya

"Orang kreatif menggabungkan hal-hal yang kontradiktif di dalam diri. Kemudian mereka jadikan satu dalam prosesnya," ucap Annastasia.

2. Orang kreatif suka mengkhayal

Orang kreatif akan berjalan kaki sambil melamun untuk memikirkan ide-ide, serta melakukan deep breathing atau bernapas secara dalam.

3. Mulai menciptakan sesuatu

"Kita mulai menciptakan sesuatu. Terkadang kita tidak mendapat penghargaan yang layak saat membuat sesuatu, sehingga kita takut memulainya," katanya.

4. Atensi atau perhatian

"Sekarang kita menjadi terkondisi untuk multitasking. Itu mengakibatkan kita sulit fokus pada satu hal. Keterampilan orang untuk fokus mengerjakan satu hal dalam waktu lama akan menjadi kekuatan luar biasa di masa depan."

5. Temukan sisi jenius

Annastasia mengatakan, setiap orang punya sisi jenius. "Cari sisi jenius kita. Ide apa yang pernah kita punya, namun belum kita kembangkan."

Baca juga: Agar Kerja Makin Produktif, Ini 5 Cara Mengisi Waktu selama Pandemi Covid-19

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.