Demi Kesehatan Mental, Anak Perlu Bermain Bersama Teman-temannya

Kompas.com - 16/06/2020, 20:56 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Sekitar 1,4 miliar anak di seluruh dunia saat ini hanya bisa melakukan berbagai aktivitas di rumah saja, sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Di berbagai negara di dunia, sudah enam minggu atau lebih sejak anak-anak terakhir bermain bersama teman-temannya.

Data awal yang dikumpulkan sebagai bagian dari sebuah penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan, bahwa 63 persen orangtua di Inggris mengakui anak mereka (usia lima hingga 11 tahun) merasa kesepian dalam beberapa minggu pertama masa karantina.

Helen Dodd, Profesor Psikologi Anak University of Reading mengatakan, hal tersebut mengalami peningkatan sekitar 40 hingga 50 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Masa karantina membuat kesehatan mental anak-anak dalam bahaya.

Baca juga: 3 Cara Membentuk Kepribadian Anak

Menurutnya, ketika nanti karantina dilonggarkan, anak-anak harus diizinkan bermain dengan teman-teman mereka sesegera mungkin.

Sementara itu, anak-anak bisa memanfaatkan teknologi yang menyediakan beberapa cara untuk terhubung dengan teman sebayanya.

Berikut ini lima alasan, mengapa anak-anak harus segera bermain dengan teman-teman sebayanya:

1. Hubungan yang setara

Untuk kesejahteraan sosial dan emosional, anak-anak perlu memiliki kesempatan untuk semua jenis permainan, termasuk bermain dengan anak-anak lain.

Permainan dengan teman sebaya ini sangat penting bagi anak-anak dari segala usia.

Hubungan sebaya itu unik karena sifatnya sukarela, setara, dan membutuhkan negosiasi dan kompromi.

Bermain dengan teman sebaya memungkinkan anak-anak belajar mengatur emosi mereka, mengembangkan keterampilan sosial dan membentuk identitas.

Tanpa kesempatan untuk bermain dekat dengan teman-teman mereka, anak-anak dapat merasa kesepian dan terisolasi secara sosial.

Anak-anak yang mengalami situasi sulit di lingkungan sosial dan sekolah, memang akan merasa lebih aman berada di rumah bersama orangtua mereka, karena tak perlu menghadapi situasi yang menantang.

Namun, paparan situasi yang ditakuti sebenarnya adalah komponen penting untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan.

Periode yang diperpanjang ini, tanpa paparan apa pun dapat menyebabkan ketakutan yang meningkat pada anak-anak dan membuat masa transisi dari karantina menjadi lebih menantang.

Baca juga: Mengapa Anak Terus Menempel dan Bersikap Manja Selama Masa Karantina?

Halaman:


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X