KOMPAS.com - Hukum permintaan dan penawaran dalam ilmu ekonomi mengungkap adanya hubungan yang bersifat negatif antara harga dengan jumlah barang yang dicari (demand).
Artinya, apa pengaruh dari hubungan antara ketersediaan produk tertentu dan permintaan/kebutuhan konsumen terhadap harganya.
Ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat, dan pasokan menurun, maka harga akan cenderung naik.
Hal itu pula yang diduga terjadi pada fenomena melambungnya harga jual sepeda lipat buatan London, Inggris, Brompton, di pasar Indonesia.
Baca juga: Beli Brompton Rp 250 Juta? Mikir, Mending Jalan-jalan ke London...
Pakar Marketing & Managing Partner Inventure, Yuswohady dalam perbincangan dengan Kompas.com, mengungkap pandangan tentang fenomena kenaikan drastis harga Brompton.
Yuswohady menyebut, di luar hukum permintaan dan penawaran itu, pasar di Indonesia memang memiliki keunikannya sendiri.
"Orang (Indonesia) itu kalau sesuatu mahal, dipakai oleh -katakanlah direktur gitu, terus jadi mempunyai nilai gengsi tinggi."
"Jadi saya kira ini fenomena kayak kalau saham, 'goreng' saham. Orang Indonesia kan begitu ada sesuatu yang trending, responsnya langsung cepat," cetus dia.
Yuswohady tak membantah jika secara fungsional sepeda menjadi kebutuhan yang "booming" di tengah masyarakat. Apalagi di era pandemi Covid-19, untuk menghindari transportasi umum.
"Tapi di Indonesia, Jakarta, jalur sepeda kan masih terbatas, belum menunjang. Tapi orang-orang sini banyak sok-sok-an-nya," kata dia.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.