Kompas.com - 23/07/2020, 16:42 WIB
Ilustrasi THINKSTOCKPHOTOS.COMIlustrasi

KOMPAS.com - Orangtua atau pengasuh yang bertanggung jawab melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak seringkali justru menjadi pelaku kekerasan utama.

Selama pandemi Covid-19 yang mengharuskan anak hanya berkegiatan dari rumah, kasus kekerasan tetap tinggi.

Kekerasan pada anak adalah setiap perbuatan yang dilakukan pada anak hingga menyebabkan anak sengsara atau menderita secara fisik, psikis, seksual, dan atau terlantar.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selama Januari-14 Juli 2020, di masa pandemi Covid-19 ini, tercatat 736 orangtua dan anggota keluarga yang melakukan kekerasan pada anak.

Data dari Wahana Visi Indonesia tentang Studi Penilaian Cepat Dampak COVID-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak Indonesia menyebut, sebanyak 33,8 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orangtuanya selama berada di rumah.

Perilaku yang temasuk kekerasan verbal ke anak antara lain meningkatnya volume suara berupa teriakan, bentakan, atau mengamuk. Selain itu, mengancam anak, mengkritik, mengejek, dan juga menimpakan setiap kesalahan pada anak, juga termasuk dalam perilaku ini.

Baca juga: Orangtua Wajib Tahu, Ini Berbagai Bentuk dan Efek Kekerasan pada Anak

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak UNICEF, Ali Aulia Ramly mengatakan kekerasan pada anak itu memang sudah terjadi di Indonesia bahkan sebelum adanya pademi COVID-19.

“Pada dasarnya jumlah kejadian kekerasan pada anak di Indonesia memang tinggi dan itu mengkhawatirkan,” ungkap Aulia seperti dikutip dari laman Covid19.go.id.

Contoh konkrit kekerasan pada anak secara emosional adalah merendahkan kemampuan anak dalam belajar dan menerapkan pola mendisiplinkan anak yang tidak tepat, seperti memberikan hukuman dan sanksi yang dianggap bagi sebagian orangtua justru akan membangkitkan semangat pada anak.

Lebih lanjut Aulia juga menjelaskan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, orangtua maupun anak untuk memahami apakah dia terdampak secara psikologis.

Gejala-gejala umum seperti menurunnya semangat untuk menjalankan aktivitas, mudah marah, dan cepat kehilangan konsentrasi itu memang normal namun tetap harus diperhatikan jika terjadi secara berkepanjangan.

Baca juga: Peringati HAN 2020, Satgas Covid-19 Tampilkan Energi Positif Anak di Tengah Pandemi

“Jangan lupa bahwa ketika kita ingin mendukung anak dan remaja, kita juga harus memperhatikan kesehatan jiwa orangtuanya, membantu mereka memahami diri sendiri, bisa memilih cara menangani, dan cara untuk mendapat pertolongan,” tegasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.