Kompas.com - 07/08/2020, 16:55 WIB

“Pabrik besarnya ada Padalarang,” imbuh dia.

Namun seiring berjalannya waktu, terjadi alih fungsi lahan. Kebun murbai menyempit, pabrik pun tutup.

Akibatnya, benang sutra tak ada lagi di Jabar dan mulai impor dari China sejak tahun 1998 sampai sekarang.

Meredupnya usaha tenun, sambung Komar, kemungkinan karena kurangnya kepedulian pemerintah di masa lalu.

Selain itu, tenun tidak dikenakan oleh masyarakat Jabar sebagai pakaian sehari-hari.

Hal ini berbeda dengan beberapa daerah di Indonesia yang menjadikan kain tradisionalnya sebagai pakaian sehari-hari.

“Kondisinya sekarang, Jabar itu bisa supply tapi gak ada demand. Sedangkan daerah pemilik ulos, demand ada, supply-nya kurang,” ucap dia.

Baca juga: Mengapa Harga Kain Tenun NTT Sering Dipatok Tinggi?

Hal inilah yang membuat Majalaya kini malah bertrannsformasi sebagai sentra produksi ulos. Tentunya ulos yang diproduksi telah disesuaikan, kata Komarudin.

Indikasi geografis

Demi mengangkat kembali tenun-tenun Jabar yang dulu pernah booming, Komarudin mengaku Dekranasda menyiapkan Majalaya dan Garut sebagai indikasi geografis.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.