Kompas.com - 08/12/2020, 10:17 WIB
Foto dirilis Selasa (20/10/2020), memperlihatkan tanaman ganja di permukiman Lamteuba, Kecamatan Seilumum, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sejak beberapa tahun terakhir, operasi anti-narkoba pemusnahan ganja gencar dilakukan pihak berwenang di berbagai daerah pesolok dan pedalaman Aceh. ANTARA FOTO/AMPELSAFoto dirilis Selasa (20/10/2020), memperlihatkan tanaman ganja di permukiman Lamteuba, Kecamatan Seilumum, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sejak beberapa tahun terakhir, operasi anti-narkoba pemusnahan ganja gencar dilakukan pihak berwenang di berbagai daerah pesolok dan pedalaman Aceh.

KOMPAS.com - Semakin banyak negara mulai melegalkan ganja untuk keperluan medis. Bahkan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menghapuskan ganja dari kategori obat adiktif dan berbahaya.

Penelitian-penelitian terbaru tentang manfaat ganja memang mendasari keputusan tersebut. Mungkin Anda pernah mendengar ganja atau produk turunannya mampu menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan otak, gangguan kecemasan, depresi, atau bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Meski demikian, manfaat ganja bagi kesehatan mental dianggap kurang meyakinkan. Studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet, menyebut bukti ganja bisa bermanfaat bagi kesehatan mental sangat rendah.

Brian Barnett, MD, psikiater yang tidak ikut ambil bagian dalam studi tersebut mengatakan, berdasarkan studi yang ada saat ini penggunaan ganja atau produk terkait untuk mengobati kesehatan mental tidak dapat dibenarkan.

"Studi tersebut mengamati penggunaan ganja untuk pengobatan gangguan kejiwaan lain dan tidak ada bukti kuat saat ini bahwa ganja atau turunannya efektif untuk depresi, ADHD, sindrom Tourette atau PTSD," katanya.

Baca juga: PBB Putuskan Ganja Masuk Golongan I Narkotika, Bagaimana di Indonesia?

Para peneliti meninjau 83 studi yang mengamati efek ganja sebagai obat, ganja sintetis, dan produk turunan ganja.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka mempelajari dampak produk ganja pada enam kondisi kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan perhatian-defisit hiperaktif (ADHD), sindrom Tourette, gangguan stres pasca-trauma dan psikosis.

Studi itu tidak menemukan bukti kuat bahwa semua jenis ganja bisa digunakan untuk pengobatan kesehatan mental. Para peneliti mencatat, studi yang ditinjau kecil dan berkualitas rendah.

Barnett percaya, studi berkualitas tinggi diperlukan untuk menentukan apakah ganja dan produk terkait efektif dan aman untuk mengatasi masalah kesehatan mental.

Dia juga mengatakan, seseorang harus waspada terhadap risiko yang diketahui terkait ganja.

"Kita tidak tahu banyak manfaat kesehatan yang potensial, tapi kami tahu risiko ganja termasuk kecanduan," kata Barnett.

"Kami melihat peningkatan jumlah orang yang datang ke ruang gawat darurat karena ganja dilegalkan dalam berbagai konteks. Ganja lebih kuat dalam hal kandungan THC dibanding dahulu yang dapat menyebabkan banyak reaksi merugikan," tambahnya.

Ia menyarankan masyarakat mengenai pentingnya berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan pengobatan dengan ganja atau produk turunan ganja.

Baca juga: Larangan Merokok di Apartemen, tapi Ganja Diperbolehkan



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.