4 Gejala Covid-19 yang Menunjukkan Antibodi Bertahan Lama

Kompas.com - 13/01/2021, 08:08 WIB
Foto yang dirilis Xinhua menunjukkan petugas medis dengan APD melakukan tes swab ke para warga Shijiazhuang di provinsi Hebei, China, pada Rabu (6/1/2021). XINHUA/MU YU via APFoto yang dirilis Xinhua menunjukkan petugas medis dengan APD melakukan tes swab ke para warga Shijiazhuang di provinsi Hebei, China, pada Rabu (6/1/2021).

KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru memperlihatkan adanya hubungan antara gejala Covid-19 dengan imunitas yang mungkin diperoleh pasien setelah pemulihan.

Seperti yang diketahui, antibodi setelah terinfeksi hanya dapat bertahan selama 3-6 bulan dan setelah itu akan mulai berkurang.

Namun, para ahli percaya, bahwa tingkat antibodi atau kekebalan yang tubuh kita miliki dapat menentukan risiko reinfeksi virus.

Tingkat kekebalan tubuh juga berperan pada orang dengan komorbiditas tertentu, yang lebih mungkin untuk terinfeksi lagi.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Wisconsin itu menegaskan bahwa gejala Covid-19 dapat menunjukkan seberapa besar seseorang berisiko untuk reinfeksi.

Baca juga: Jika Sudah Vaksinasi, Masih Bisakah Terinfeksi Covid-19? Ini Kata Ahli

Menurut para peneliti, orang-orang dengan kasus infeksi yang lebih ringan dianggap memiliki kekebalan yang lebih rendah.

Studi ini menganalisis sampel darah dari 113 pasien yang pulih dari Covid-19 selama lima minggu dan kemudian dibandingkan dengan sampel darah yang diambil setelah tiga bulan.

Temuan penelitian juga membuktikan, bahwa orang-orang dengan penyakit Covid-19 yang parah lebih mungkin memiliki antibodi yang lebih kaya dan lebih lama.

Kita bisa mengetahui empat gejala Covid-19 yang menunjukkan imunitas dapat bertahan lebih lama.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19, Antibodi, dan Kasus Infeksi Ulang...

1. Demam lebih dari seminggu

Biasanya demam tinggi dengan suhu di atas 38,5 derajat dapat mengindikasikan gejala Covid-19 setelah 4-5 hari terinfeksi.

Dalam penelitian tersebut, demam yang berlangsung lama membuat tubuh bekerja ekstra untuk menghasilkan lebih banyak antibodi.

Respons peradangan sistemik seperti demam penting untuk memasang respons kekebalan tubuh yang baik. Selain itu, demam juga bisa menjadi alasan mengapa kasus Covid-19 yang lebih ringan memiliki lebih sedikit antibodi.

Baca juga: Mungkinkah Tertular Covid-19 Tanpa Demam? Ini Kata Dokter

Ilustrasi NakesKOMPAS.com/NURWAHIDAH Ilustrasi Nakes

2. Hilangnya nafsu makan

Kehilangan nafsu makan adalah gejala infeksi Covid-19 yang dapat dikatakan parah.

Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang yang mengalami gejala seperti tak dapat mencium bau, infeksi tenggorokan, mual dan kelelahan kronis.

Beberapa dokter yakin, kehilangan nafsu makan yang ekstrim menjadi tanda bahwa tubuh akan mengalami perubahan besar.

Sehingga, tubuh bekerja keras untuk menghasilkan respons peradangan sistemik yang tinggi, yang membantu dalam produksi antibodi yang banyak.

Kendati demikian, kehilangan nafsu makan dalam jangka panjang dapat mengganggu metabolisme. Akibatnya, kita mengalami penurunan berat badan, energi terkuras, dan kelelahan.

Baca juga: Benarkah Anosmia Pasien Covid-19 Bisa Permanen?

3. Diare

Diare juga merupakan gejala parah dari Covid-19 yang cukup banyak dialami pasien.

Diare sering kali disertai dengan gejala lain seperti infeksi usus, muntah, dan rasa tidak enak pada perut.

Biasanya, gejala ini dianggap sebagai tanda, bahwa virus telah mengganggu sistem pencernaan dan umum terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Namun, diare juga bisa berarti sebagai tanda kalau tubuh bekerja meningkatkan respons antibodi alami tubuh. Salah satunya dengan menghidupkan kembali sel-sel kekebalan yang ada di sepanjang lapisan usus.

Baca juga: Merasa Pusing Bisa Jadi Gejala Covid-19

4. Sakit perut

Sementara itu, sakit perut merupakan komplikasi pencernaan akibat infeksi Covid-19.

Para peneliti menemukan, bahwa orang-orang yang menlaporkan sakit perut sebagai gejala Covid-19 memiliki lebih banyak antibodi dan kekebalan yang lebih lama.

Namun, penelitian tersebut masih memerlukan peninjauan lebih lanjut untuk menyimpulkan korelasi antara sakit perut kronis dengan kekebalan tubuh.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X