Kompas.com - 16/03/2021, 14:59 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

KOMPAS.com - Akses rumah warga di Ciledug, Tangerang, Banten yang ditutup tembok mungkin hanya satu dari sekian ragam konflik antar-tetangga yang kerap kali muncul dalam keseharian.

Ada banyak konflik serupa yang kerap muncul dalam kehidupan bertetangga, dengan dampak yang beragam.

Ada yang berujung dengan saling gugat di pengadilan, tak lagi bertegur sapa satu sama lain, sampai tindakan membahayakan seperti saling serang secara fisik. 

Baca juga: Viral, Akses Rumah di Ciledug Ditutup Paksa dengan Tembok, Ini Cerita Sang Pemilik

Hubungan antara-manusia secara alamiah memang begitu dinamis, sehingga hasilnya bisa begitu berbeda.

Ada tetangga yang begitu akur hingga kerap beraktivitas bersama, mulai dari kerja bakti, arisan, sampai nonton sinetron bersama.

Namun biasanya pada penduduk di wilayah padat, atau daerah perkampungan miskin, konflik lebih rentan terjadi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Riset Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, menyebutkan kondisi semacam ini biasanya pecah karena ada lebih banyak komunikasi yang terjalin di tengah kepadatan tersebut.

Baca juga: 5 Kata yang Bikin Komunikasi dengan Pasangan Memburuk

Dalam penelitian tahun 2010 itu terungkap, faktor-faktor yang melatarbelakangi konflik di wilayah perkampungan miskin antara lain berkaitan dengan masalah gosip, utang piutang, hingga cinta segitiga.

Uniknya, riset ini juga menyebutkan, konflik kerap terjadi karena adanya pihak yang menutup "keran" komunikasi dalam kurun waktu tertentu.

Interaksi positif yang awalnya tercipta menjadi terhambat oleh adanya konflik.

Dalam proses penyelesaian pun, kerap kali belum terwujud secara signifikan karena hanya sampai pada fase pengungkapan dan klarifikasi masalah.

Tidak ada komunikasi sebagai proses penuntasan masalah, sehingga masalah malah makin berkembang.

Namun, agaknya konflik tak hanya berkisar pada masyarakat ekonomi rendah saja.

Sebab, dalam penelitian ini pun terungkap, konflik serupa juga tetap terjadi di antara masyarakat kelas menengah.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya keluhan yang muncul di media sosial mengenai hal tersebut.

Baca juga: Apakah Kamu Tipe Tetangga yang Menyebalkan?

Salah satu akun Twitter @SeputarTetangga bahkan secara harian mengunggah curahan hati followers-nya soal hidup berdampingan dengan tetangga.

Permasalahan yang kerap muncul misalnya saja parkiran, gosip, sampai kebiasaan tetangga yang dianggap menganggu.

Uneg-uneg yang muncul di dunia maya ini juga menggambarkan minimnya komunikasi. Jika pun ada, tidak menghasilkan penyelesaian yang menjawab bagi kedua belah pihak.

Conflict Resolution Service menyebutka, konflik antar tetangga dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tidak aman di rumah.

Permasalahan juga kerap terjadi jika orang yang hidup berdampingan tersebut menerapkan nilai yang berbeda.

Masalah juga bisa terjadi berkaitan dengan fasilitas umum seperti penggunaan jalanan atau taman.

Hal lain yang kerap jadi sumber sengketa adalah pagar rumah, tanaman atau hewan peliharaan.

Baca juga: Pahami, Manfaat Besar Bergaul dengan Tetangga...

Gaya hidup juga bisa membuat hubungan renggang. Misalnya karena kerap membuat kebisingan, jorok, perilaku anak, dan pelanggaran privasi.

Namun demikian, bukan berarti konflik antar tetangga tidak memiliki solusi.

Organisasi yang berbasis di Australia ini mengatakan, solusi bisa dicapai jika pihak terkait merasa aman untuk saling tidak setuju.

Jika hal ini sudah dirasakan, maka kemudian mereka bisa fokus untuk mencari solusi atas masalah yang ada.

Pembahasan yang dilakukan harus berfokus pada masalahnya, bukan orangnya, agar solusi didapatkan dan bisa hidup berdampingan dengan damai.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X