Kompas.com - 20/03/2021, 09:56 WIB

KOMPAS.com – Persoalan gizi buruk yang menyebabkan anak menjadi stunting memang harus ditangani dengan serius, sebab berpengaruh pada kualitas generasi yang akan datang.

Kendati demikian, masih ada pemahaman yang keliru tentang anak stunting, bahkan di kalangan pemangku kepentingan. Akibatnya, program intervensi yang dilakukan pun bisa keliru.

Hal tesebut disampaikan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof.dr.Aman B Pulungan Sp.A (K). Menurutnya, sebagian besar masih menganggap bahwa stunting hanya persoalan perawakan anak yang pendek saja.

“Stunting memang ditandai dengan tinggi badan yang pendek, tetapi yang disertai oleh malnutrisi,” ujar Aman dalam wawancara virtual (16/3).

Pemahaman yang keliru ini, menurut dia, akan membuat program intervensi bisa tidak tetap sasaran. Kondisi ini malah akan memicu masalah gizi baru.

Baca juga: Bedakan Anak Pendek karena Stunting dan Faktor Genetik

“Anak pendek bisa disebabkan karena banyak faktor, bisa karena kelainan hormon, masalah kromosom, kelainan tulang, atau memang genetiknya pendek. Kalau nanti diberi pemberian makan, risikonya anak normal jadi obesitas,” paparnya.

Anak yang obesitas dalam jangka panjang memiliki faktor risiko lebih besar menderita penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.

Program menyeluruh

Intervensi untuk anak yang pendek dan stunting karena malnutrisi adalah memperbaiki status gizinya dengan pemberian makanan tinggi protein. Penanganannya pun harus dilakukan sebelum anak berusia dua tahun.

Aman menilai, program penanganan stunting yang saat ini diprioritaskan pemerintah seharusnya dilakukan menyeluruh, dimulai dengan memperbaiki kesalahpahaman tentang pengertian stunting.

“Cara skriningnya harus dibuat yang benar, peran dokter anak juga harus dilibatkan. Kalau memang anak pendek, dicari sebabnya. Kalau memang malnutrisi apa pemicunya, apakah diare, sanitasi, pneumonia, atau kelaparan di suatu daerah,” tuturnya.

Baca juga: Dua Strategi Jokowi Ini Diharapkan Turunkan Angka Stunting Jadi 14 Persen

Intervensi lain yang tidak kalah penting, menurut Aman, adalah pemantauan tumbuh kembang bayi sejak lahir, yang meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.

“Sistemnya harus dibangung lagi, posyandu diaktifkan lagi dan juga pencatatan di buku KIA (kesehatan ibu dan anak). Lewat aplikasi Primaku juga bisa. Anak-anak dimonitor secara berkala, kalau ada penurunan dalam kurva segera dicek penyebabnya,” katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.