Kompas.com - 08/04/2021, 13:54 WIB
Ilustrasi bayi. SHUTTERSTOCK/DEDI GRIGOROIUIlustrasi bayi.

KOMPAS.com - Atta Halilintar mendapat banyak kritikan karena menyatakan ingin memiliki 15 anak.

Ungkapannya itu dianggap tidak menghargai perempuan karena menjadikan istri hanya sebagai pabrik anak.

Belum lama berstatus suami, dari si Youtuber ini sudah mendapatkan banyak kritik. Sulung dari 11 bersaudara ini juga menyatakan keinginannya memiliki keluarga besar.

Tak tanggung-tanggung, ia berharap bisa mendapatkan 15 anak dari Aurel Hermansyah. Sang istri juga tidak mempersoalkan hal itu, dan menyatakan kesiapannya.

Baca juga: Tak Menyesal Nikah Muda, Atta Halilintar Beri Nasihat Para Pria

Meski demikian, warganet heboh dengan pernyataan tersebut. Pasalnya, tuntutan ini dianggap terlalu berlebihan dan tidak bersifat consent.

Sikapnya dianggap melanggengkan ketidakadilan gender yang menempatkan posisi laki-laki di atas perempuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hamil dan melahirkan terlalu sering juga bisa mendatangkan masalah kesehatan bagi ibu. Ada banyak implikasi lainnya yang datang sering dengan tuntutan tersebut.

Sebaliknya, penyanyi Justin Bieber sebelumnya malah kebanjiran pujian karena sikapnya soal anak.

Dalam wawancara pada tahun 2020 lalu, ia menyebut urusan anak sepenuhnya merupakan keputusan istrinya, Hailey Baldwin.

Ia menilai, jumlah maupun kapan saatnya membangun keluarga adalah hak istrinya. Pria asal Kanada ini mengaku siap mempunyai anak, meski tetap bahagia hanya hidup berdua saja.

Baca juga: Waspadai, Masalah yang Muncul di Usia Pernikahan 10 Tahun atau Lebih

"Saya akan senang memiliki keluarga kecil. Itu tubuhnya (Hailey) dan apa pun yang dia ingin lakukan," ujar dia.

Dua contoh kasus di atas memunculkan pertanyaan, kapan sebaiknya pembahasan soal anak dilakukan?

Apakah seharusnya dilakukan sebelum pernikahan atau sesudahnya.

Bagi beberapa kalangan, anak adalah pelengkap pernikahan. Beberapa beropini, lebih banyak dan lebih cepat lebih baik.

Sebaliknya, ada yang berpendapat berbeda dan masih perlu mempertimbangkan banyak hal.

Untuk memastikan hal itu, Kristin Davis terapis pernikahan di North Carolina mengatakan ada baiknya mendiskusikan soal anak sebelum menikah.

Pembahasannya bukan hanya soal kesediaan pasangan memiliki anak atau jumlahnya. Penting juga berbicara tentang cara membesarkannya termasuk dari segi finansial.

"Pembahasan ini lebih bermanfaat dalam jangka panjang jika dilakukan sebelum menikah daripada menunggu setelah menikah, yang sayangnya dilakukan banyak orang," ujar dia.

Anak Isu Krusial dalam Pernikahan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.