Kompas.com - 30/04/2021, 12:13 WIB

KOMPAS.com - Metode pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama pandemi ternyata memberikan dampak buruk bagi anak.

Hal itu terungkap dari survei terbaru yang dilakukan oleh Children's Hospital of Chicago terhadap lebih dari 32.000 pengasuh anak di Chicago Public Schools.

Dari keterangan para partisipan, hampir seperempat anak digambarkan merasa stres, cemas, marah, atau gelisah ketika pandemi mengubah metode pembelajaran tatap muka menjadi sekolah online.

Survei tersebut melibatkan hampir 50.000 anak di berbagai tingkat pendidikan mulai dari pertengahan Juni hingga 15 Juli 2020, dan dimuat ke dalam jurnal JAMA Network Open.

Baca juga: Nadiem Beberkan Dampak Satu Tahun Pembelajaran Jarak Jauh: Anak Putus Sekolah hingga Kesenjangan

Juga, survei menemukan bahwa sekitar sepertiga remaja digambarkan oleh pengasuh mereka merasa kesepian, dan hanya sepertiga remaja yang digambarkan memiliki hubungan sosial dan teman sebaya yang positif selama pembelajaran jarak jauh.

"Secara keseluruhan, orangtua atau pengasuh melaporkan secara signifikan kesejahteraan psikologis yang lebih buruk setelah sekolah tatap muka ditutup," demikian temuan para peneliti.

"Pengasuh melaporkan pandemi dan penutupan sekolah menimbulkan dampak emosional yang substansial pada anak dan remaja," kata penulis utama studi Tali Raviv, PhD, psikolog klinis.

Ia juga Associate Professor of Psychiatry and Behavioral Sciences di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

"Perhatian publik yang lebih besar terhadap masalah kesehatan mental remaja bisa membantu mengalokasikan sumber daya secara tepat dan mengumumkan kebijakan untuk mendukung kesejahteraan siswa saat sekolah dibuka kembali," tambah dia.

Baca juga: Uji Coba Sekolah Tatap Muka Berakhir Jumat Besok, Wagub DKI: Belum Ada Laporan Negatif

 

Temuan ini sejalan dengan studi lain yang membahas bagaimana metode pembelajaran jarak jauh berdampak negatif pada anak sejak dimulainya pandemi.

Kenneth Fox, MD, co-senior author di Chicago Public Schools mengatakan, survei yang dilakukan timnya menyoroti cara sekolah menyediakan kebutuhan dasar kepada anak.

Baca juga: Tanda Anak Merasa Stres akibat Sekolah Online

Kebutuhan mendasar ini hilang ketika anak harus mengikuti kegiatan belajar mengajar dari rumah.

"Sekolah adalah pusat komunitas penting yang memenuhi kebutuhan mendasar seperti akses ke makanan, dukungan dan layanan kesehatan dan mental, serta jenis perlindungan lainnya," kata Fox.

Sekolah akan dibuka

Di Indonesia sendiri, pemerintah menyatakan tahun ajaran baru sudah bisa dimulai dengan pembelajaran tatap muka secara terbatas pada Juli 2021.

Aktivitas pembelajaran tatap muka terbatas ini akan dilakukan setelah pemerintah menyelesaikan program vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga pendidikan.

Namun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum menganjurkan sekolah tatap muka.

Dalam keterangan rilis yang diterima Kompas.com pada Rabu (28/4/2021), Ketua IDAI Aman B Pulungan menjelaskan hal tersebut.

"Melihat situasi dan penyebaran Covid-19 di Indonesia, saat ini sekolah tatap muka belum direkomendasikan," ujar Aman.

Baca juga: Soal Rencana Pembukaan Sekolah Tatap Muka Juli 2021, Ini Kata IDAI

Menurut Aman, jika sekolah tatap muka dimulai, maka pihak penyelenggara harus menyiapkan blended learning, di mana anak dan orangtua bebas memilih metode pembelajaran, apakah itu offline (tatap muka) atau online.

Di samping itu, anak yang belajar secara offline maupun online harus memeroleh perlakuan yang sama dari pihak sekolah.

"Mengingat prediksi jangka waktu pandemi Covid-19 yang masih belum dapat ditentukan, maka guru dan sekolah hendaknya mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar," jelas Aman.

"Misalnya, memanfaatkan belajar di ruang terbuka seperti taman, lapangan, atau sekolah di alam terbuka."

Baca juga: 6 Poin Evaluasi Uji Coba Sekolah Tatap Muka di Jakarta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.