Kompas.com - 30/09/2021, 06:03 WIB

Dikutip dari laman DKT -organisasi nirlaba yang fokus pada kesehatan reproduksi, disebut, kondom awalnya dibuat dari usus binatang.

Sejak tahun 1920, bahan bakunya berubah menjadi lateks dan berkembang menjadi poliuretan.

Kontrasepsi pria ini bekerja sebagai penghalang agar cairan mani tidak masuk ke liang vagina.

Dengan demikian, sperma tidak dapat membuahi sel telur sehingga mencegah terjadinya kehamilan.

Kondom juga dapat mencegah terjadinya Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti gonorrhea, sifilis, HIV, dan lain-lain.

Sebagai alat kontrasepsi untuk pria, kondom sangat aman karena tidak memengaruhi hormon penggunanya.

Selain itu, alat kontrasepsi ini praktis dan mudah didapatkan di banyaak tempat.

Namun ada risiko ketika kondom digunakan dengan tidak tepat, rusak atau koyak, sehingga fungsinya tidak optimal.

Baca juga: Seks Setelah Vasektomi, Bagaimana Baiknya?

Kondom berbahan lateks juga dapat memicu alergi bagi beberapa orang sehingga tidak direkomendasikan.

Vasektomi

Vasektomi adalah pilihan kontrasepsi pria yang belum terlalu populer di masyarakat meskipun kerap dikampanyekan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.