Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - Diperbarui 25/11/2022, 08:34 WIB

KOMPAS.com - Black Friday adalah hari diskon besar-besaran yang jatuh sehari setelah perayaan Thanksgiving.

Pada momen ini, berbagai jenama menawarkan potongan harga yang cukup besar serta berbagai penawaran menarik lainnya.

Black Friday sangat dinantikan oleh para penggila belanja karena bisa memuaskan hasratnya untuk membeli berbagai produk dengan harga lebih miring.

Baca juga: Black Friday, Ternyata Pria Lebih Getol Berburu Diskon

Makna Black Friday, Momennya Penggila Belanja

Black Friday kini juga menandai pembukaan periode sale akhir tahun yang identik dengan diskon besar-besaran.

Banyak yang memanfaatkannya untuk menyalurkan hasrat belanjanya atau menikmati diskon akhir tahun lebih awal.

Apalagi sejumlah brand di Amerika Serikat maupun Eropa kerap memberikan promo yang menggiurkan.

Kehebohannya nyaris serupa dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diterapkan di Indonesia.

Baca juga: Harbolnas 11.11, Watsons Tebar Promo Diskon hingga 70 Persen

Jadi, apa yang sebenarnya dimaksud dengan Black Friday?

Black Friday adalah istilah untuk merujuk hari Jumat yang jatuh setelah perayaan Thanksgiving.

Oleh sebab itu, tanggalnya setiap tahun bisa berbeda-beda menyesuaikan jadwal hari libur keluarga di Amerika Serikat ini.

Awalnya, istilah Black Friday digunakan di Philadelphia, AS pada periode 1950an.

Istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan masyarakat pinggiran kota yang berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan pada hari-hari setelah Thanksgiving.

Sejumlah toko di pusat kota menawarkan promo menarik untuk produk yang dijual menjelang pertandingan olahraga yang digelar secara rutin pada masa itu.

Kerumunan itu menciptakan kekacauan dan kemacetan yang menjadi masalah bagi anggota kepolisian.

Akibatnya, para petugas tidak bisa mengambil cuti dan menikmati Thanksgiving lebih panjang.

Hal inilah yang memunculkan istilah Black Friday, yang dimaksudkan sebagai sarkasme atas kondisi pekerjaan mereka.

Baca juga: Apa Itu Black Friday dan Dampaknya

Ilustrasi Black FridayShutterstock/Maximmmmum Ilustrasi Black Friday
Istilah Black Friday kemudian mulai menyebar luas hingga jauh di luar Philadelphia.

Konotasi negatif atas istilah itu membuat banyak orang tersinggung, khususnya kalangan pengusaha, sehingga berusaha mengubah maknanya dengan menawarkan promo besar-besaran.

Black Friday kemudian semakin dikenal setelah dipakai dalam iklan di media cetak tahun 1966.

Perkembangannya kemudian membuat istilah itu dikenal secara umum sebagai penjualan pasca Thanksgiving.

Kini Black Friday tidak lagi merujuk pada satu hari tertentu namun mengidentifikasikan periode diskon yang lebih banyak.

Baca juga: 3 Tipe Orang saat Belanja di E-commerce, Kamu yang Mana?

Durasinya bisa berbeda-beda pada setiap brand, ada yang melakukannya selama tiga hari bahkan satu bulan.

Promo Black Friday juga banyak yang dimulai lebih awal, bisa lebih awal dan bahkan bertepatan dengan Thanksgiving.

Di sisi lain, konsumen juga mulai menantikan promosi tahunan ini, sama seperti diskon Natal atau Tahun Baru.

Banyak orang rela mengantre berjam-jam di toko favoritnya demi mendapatkan penawaran terbaik tahun itu. Belakangan, tren Black Friday juga merambah pada dunia belanja online.

Baca juga: Simak, Fakta-fakta Menarik tentang Diskon dan Cashback

Sejumlah brand menawarkan diskon Black Friday untuk pembelian lewat situs resmi maupun e-commerce.

Kebijakan ini membuat penikmat Black Friday bukan lagi berasal dari Amerika saja namun seluruh warga dunia.

Black Friday juga kerap membuat brand atau penjual meraup keuntungan besar.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan pencatatan keuangan yang mengasumsikan kerugian sebagai tinta merah dan keuntungan dengan tinta hitam.

Antusiasme Black Friday membuat banyak perusahaan kehabisan tinta hitamnya untuk mencatat keuntungan penjualannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.