Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/03/2023, 09:07 WIB
Sekar Langit Nariswari

Penulis

Sumber QHMS

KOMPAS.com - Stroke telinga ramai dibahas di Twitter karena cuitan komedian Kiky Saputri.

Mertuanya sempat didiagnosis stroke telinga karena mengalami gangguan pendengaran parah, belakangan itu rupanya hanya salah satu keluhan flu.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Telinga Kemasukan Air saat Berenang

Pengalamannya membuat sejumlah netizen mempertanyakan kebenarannya karena istilah stroke telinga memang terasa asing bagi sebagia kalangan.

Stroke telinga

Stroke telinga adalah gangguan pendengaran sensorineural mendadak.

Istilah ini mungkin jarang terdengar di masyaraat namun keluhannya memang ada dengan berbagai gejalanya.

Gejala umum stroke telinga biasanya adalah gangguan pendengaran parah yang tiba-tiba dan tuli di satu telinga.

Baca juga: Deretan Agenda Konser Musik Menanti? Awas Gangguan Pendengaran

Penderita bahkan bisa mendadak kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan pendengarannya hanya dalam waktu tiga hari saja.

Dalam rentang waktu tersebut,suara yang terdengar secara bertahap akan seperti teredam atau redup.

Gejala lainnya termasuk pusing mendadak, tinitus, dan sakit telinga.

Sering kali, orang tidak merasakan gangguan kesehatan ini dan hanya menganggap telinganya bermasalah karena adanya kotoran, flu atau lainnya.

Ilustrasi gangguan pendengaran Ilustrasi gangguan pendengaran
Beberapa menilai gejalanya akan reda dengan sendirinya sehingga enggan berkonsultasi dengan dokter, sampai akhirnya terlambat.

Faktanya, gangguan pendengaran sensorineural mendadak dianggap sebagai situasi darurat sehingga harus segera ditangani.

Baca juga: Apakah Stroke Saat Tidur Lebih Cepat Memicu Kematian?

Dua minggu pertama setelah gejala muncul merupakan periode emas untuk melakukan pengobatan.

Jika salah langkah, sulit untuk memulihkan pendengaran hingga berisiko tuli permanen akibat stroke telinga ini.

Penyebab stroke telinga

Penyebab stroke telinga belum bisa dipastikan oleh pakar medis namun umumnya dipicu oleh infeksi virus.

Halaman:
Sumber QHMS
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com