Salin Artikel

Kisah Rahmi Hidayati, Gemar Naik Gunung Pakai Kebaya

Menjadi pecinta alam ketika duduk di bangku kuliah membuat aktivitas naik gunung sudah tak asing bagi Rahmi. Namun, naik gunung dengan berkebaya baru dijalaninya selama beberapa tahun terakhir.

Beberapa gunung telah ditaklukannya sambil menggunakan kebaya. Beberapa di antaranya adalah Gunung Semeru, Ciremai, Gede, Rinjani, dan Pegunungan Arfak (Pegaf).

Awal mula ia konsisten mengenakan kebaya adalah 2014 lalu. Di tahun itu pula ia membentuk Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia.

 Suatu hari di 2014 ketika Rahmi turun dari Gunung Rinjani, ia berpapasan dengan rombongan yang hendak sembayang ke pura di atas gunung.  Rahmi begitu kagum melihat para perempuan yang ada di rombongan tersebut berjalan mengenakan busana adat lengkap dan alas kaki yang tentu jauh tampilannya dari sepatu gunung.

Di situ lah ia mulai mencoba naik gunung menggunakan kebaya.

"Saya berpikir, coba ah naik gunung pakai kebaya," kata wanita pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya ini.

Karena sudah terbiasa memakai kebaya sehari-hari, setelan tersebut tidak menyulitkan Rahmi ketika naik gunung. Termasuk ketika mengenakan kain sambil memanjat.

Hanya saja, di awal-awal mencoba naik gunung sambil berkebaya, Rahmi masih mencoba mencari cara mengikat kain yang pas sehingga tidak menghalangi gerak kakinya ketika naik gunung.

"Naik gunung dari bawah sampai puncak kaki saya bisa melangkah leluasa, saya juga bisa lari. Enggak ada masalah. Hanya saja mengikat kainnya tidak bisa kayak ikat kain mau ke kondangan," katanya.

Untuk kain, tak ada bahan spesifik yang dianggap lebih nyaman untuk naik gunung. Sementara untuk kebaya, dalam beberapa waktu terakhir Rahmi kerap menggunakan kebaya berbahan kaos yang diproduksinya sendiri.

Namun, ia tetap naik gunung menggunakan sepatu khusus naik gunung. Sebab menurutnya, alas kaki harus ada dalam kondisi terbaik agar bisa melewati rintangan medan yang ada.

"Ranselnya bukan yang gede kayak waktu saya muda. Waktu muda tenaga ada, tapi duit enggak ada. Sekarang duit ada, tapi tenaga enggak ada. Jadi pakai porter karena bawaan semuanya harus tetap lengkap," tuturnya.

"Teman-teman sudah ajakin. Ada yang ajakin ke Semeru, Ijen, Gede, Talamau. Tapi saya belum memutuskan," kata wanita yang berprofesi sebagai konsultan kehumasan ini.

Ajak anak muda mau berkebaya

Rahmi bersama teman-temannya yang ada di komunitas pegiat kebaya lainnya terus berupaya agar semakin banyak perempuan mau lebih sering mengenakan kebaya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberlakukan Selasa Berkebaya, dimana kita beraktivitas seharian penuh mengenakan kebaya.

Namun, ada sejumlah kendala dihadapi. Salah satunya adalah masih banyaknya anggapan di masyarakat bahwa berkebaya adalah sesuatu yang ribet.

"Perlu juga disosialisasikan bagaimana menggunakan kain supaya enggak ribet. Karena teman-teman selalu pertanyaannya, "kok kamu enggak ribet?". Bahkan naik ke puncak gunung pun kan saya pakai kebaya," ujarnya.

Untuk menularkan kesenangan berkebaya kepada anak muda, Rahmi menilai perlu ada pendekatan psikologis. Misalnya, dengan memberikan pemahaman bahwa berkebaya tidak harus menggunakan kain ketat serta sepatu sendal tinggi, melainkan bisa disesuaikan dengan gerakan mereka yang dinamis.

"Kenapa celana panjang disukai anak muda? Karena mereka bisa gerak dengan ritme tinggi. Itu yang perlu kita sosialisasikan, yaitu cara pemakaian kain yang lebih fleksibel," kata Rahmi.

Ia meyakini, para anak muda bukannya tidak mau berkebaya sambil beraktivitas. Mereka hanya belum menemukan cara berkebaya yang nyaman serta perlu diajak secara lebih progresif.

"Kalau saya sudah lewati masa itu. Kalau ada yang tanya: "habis kondangan dimana?" saya ketawa saja. Saya kan setiap hari berkebaya. Cuma mandi saja saya enggak pakai kebaya," selorohnya.

Rahmi bahkan pernah mengajak anak-anak Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) naik gunung sambik berkebaya, pada momentum ulang tahun unit kegiatan mahasiswa itu.

Saat itu, meski beberapa anak baru mengenakan kebaya ketika sampai di puncak gunung, Rahmi tetap mengapresiasi kemauan mereka berkebaya saat naik gunung.

"Karena badannya mirip-mirip dengan saya semua, saya pinjamin kebaya. Kayaknya begitu cara menarik anak muda mau pakai kebaya. Bukan mereka enggak mau, tapi harus ada yang mengajak," kata Rahmi.

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/07/17/083100720/kisah-rahmi-hidayati-gemar-naik-gunung-pakai-kebaya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.