Salin Artikel

Cerita Ibu Elon Musk Mengasuh 3 Anaknya hingga Sukses

KOMPAS.com - "Aku cinta anak-anakku dan sangat bangga dengan apa yang sudah mereka capai."

Demikian tulis Maye Musk, ibunda dari CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, pada laman CNBC.

Maye sendiri merupakan supermodel internasional dan ahli gizi teregistrasi. Ia sudah menjadi pembicara di berbagai forum dan menulis buku berjudul “A Woman Makes a Plan".

Maye menjadi single parent untuk ketiga anaknya sejak usia 31 tahun. Ia tak pernah menyesal dengan apa yang dijalaninya itu karena ia tak memiliki pilihan.

Baginya, merawat anak adalah prioritas utama. Namun ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kini, tiga anak Maye terbilang sukses. Anak tertuanya, Elon Musk, membuat mobil listrik ramah lingkungan dan meluncurkan roket.

Anak keduanya, Kimbal, menjalankan restoran serta mengajar anak-anak merawat kebun buah dan sayuran di sekolah-sekolah yang tidak terlayani.

Sementara anak bungsunya, Tosca, memproduksi film dan memiliki perusahaan hiburan.

Lewat tulisan tersebut, Maye mengungkapkan bagaimana ia merawat ketiga anaknya hingga sukses di usia dewasa.

"Orang-orang sering bertanya bagaimana aku membesarkan anak-anak yang sukses. Aku katakan pada mereka caranya dengan mengajarkan tentang kerja keras dan membiarkan mereka mengerjakan apa yang mereka suka," ungkapnya.

1. Belajar bekerja sejak dini

Maye mulai bekerja dengan ayahnya ketika usia delapan tahun. Mereka tinggal di sebelah klinik chiropractic ayahnya, di mana sang ibu juga turut membantu.

Saat itu, Maye dan kembarannya, Kaye dibayar 5 sen per jam (sekitar Rp 700) untuk membantu mereka mengirim buletin bulanan.

Sang ayah akan mendiktekan buletin itu kepada ibunya yang menulisnya secara cepat dan kemudian mengetiknya.

Setelah itu, Maye dan Kaye membuat salinannya, melipat buletin menjadi tiga, menyegelnya dalam amplop, lalu menempelkan cap.

Aktivitas tersebut membuat mereka mampu menghasilkan sekitar 1 dollar AS setiap bulannya, atau sekitar Rp 14.000.

Lalu ketika berusia 12 tahun mereka mulai bekerja di klinik sebagai resepsionis di sana. Mereka bergantian mengurusi pasien yang masuk, membuatkan teh, mengurus rontgen, dan menemani para pasien sampai ayah mereka siap memeriksa.

"Orangtua memperlakukan kami seperti orang dewasa yang bisa dipercaya, dan pengaruh mereka terbukti dalam bagaimana aku membesarkan anak-anakku," ujarnya.

Sejak usia muda, ketiga anak Maye membantunya bekerja di bisnis gizi. Lalu ketika mereka tinggal di Bloemfontein, Afrika Selatan, Maye mengarahkan Tosca untuk bekerja di sekolah modeling yang dibuatnya.

"Bayangkan seorang anak delapan tahun mengajar para murid bagaimana cara jalan, koreografi di atas panggung mode dan menjalankan kelas etika."

"Aku bahkan menjadikannya penata busana untuk semua peragaan busananya," ungkap Maye.

2. Biarkan anak memilih hal yang disukainya

Maye mengurus anak-anaknya sebagaimana ia dididik oleh orangtuanya, yaitu menjadi anak yang mandiri, baik, jujur, penuh perhatian, dan sopan.

Ia mengajarkan ketiga anaknya pentingnya bekerja keras dan melakukan hal-hal baik. Meski begitu, ia tak pernah memperlakukan anak-anaknya seperti bayi atau bahkan memarahi mereka.

"Aku tidak pernah mengarahkan mereka apa yang harus dipelajari, aku tidak mengecek pekerjaan rumah mereka sebab itu semua adalah tanggung jawab mereka," ujarnya.

Seiring bertumbuhnya usia, mereka mengambil tanggung jawab yang lebih besar lewat keputusan yang diambil. Mereka mendaftar ke universitas yang mereka pilih dan menyelesaikan dengan beasiswa.

Menurut Maye, anak-anak sebetulnya tak perlu dilindungi dari realitas tanggung jawab. Mereka belajar dari orangtuanya tentang bagaimana bekerja keras demi menghidupi mereka.

Ketiga anak Maye bahkan tinggal di tempat yang menyedihkan, seperti tempat tidur di lantai dan tinggal bersama enam teman sekamar atau di sebuah rumah sewaan yang bobrok.

Namun, mereka tak mempermasalahkan kondisi tersebut.

"Jika anak-anakmu tidak terbiasa dengan kemewahan, mereka akan bertahan. Kamu (orangtua) tak perlu memanjakan anak-anaknya."

"Ketika kamu sudah yakin mereka sudah dalam situasi aman, biarkan mereka menjaga dirinya sendiri," katanya.

Maye melihat banyak orangtua mudah stres dengan anaknya, terutama ketika ia sedang praktik sebagai ahli gizi.

Misalnya, seorang ayah atau ibu yang stres karena ada banyak sekali formulir untuk diisi ketika anaknya masuk sekolah atau universitas yang bagus.

Untuk mereka, apa saran yang diberikan Maye?

Biarlah si anak mengurusi dokumen itu sendiri dan membiarkan mereka mandiri untuk masuk ke universitas atau tempat kerjanya. Biarkan anak bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.

Atau jika mereka memilih memulai sebuah bisnis dan orangtua pikir itu adalah hal yang baik, berilah mereka dukungan.

"Ajari anak-anakmu perilaku yang baik, namun biarkan mereka memutuskan apa yang mereka inginkan," ujarnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/01/10/072630820/cerita-ibu-elon-musk-mengasuh-3-anaknya-hingga-sukses

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.