Salin Artikel

Sampai Kapan Manusia Bertahan Makan Seadanya?

KOMPAS.com - Jawaban singkatnya barangkali tidak sama bagi semua orang. Tergantung kondisi awal saat ‘makan seadanya’ itu dimulai.

Tak jauh beda dengan pertanyaan yang sama soal “Sampai kapan kita bertahan hidup dengan ekonomi seperti ini?”

Orang yang punya tabungan, tentu beda dengan yang baru dapat gaji saja uangnya hanya numpang lewat: terpotong cicilan, tagihan, ongkos hidup dan pajak.

Orang dengan ‘tabungan’ imunitas yang baik, tentu beda dengan mereka yang makan saja agar organ tubuhnya masih bisa bekerja.

Atau anak cacingan kronis, yang makanan sehatnya hanya untuk menghidupi koloni cacing di ususnya, ketimbang membuat si anak tumbuh besar.

Di tengah pandemi virus corona, diam-diam terjadi pandemi dadakan orang berbagi sembako. Tentu semua ada yang memulainya, lalu diikuti sebagai kegotongroyongan.

Bukan hal yang buruk, bukan hal yang salah. Sama sekali tidak. Tapi menjadi masalah besar jika tidak dipikirkan kelanjutannya, dampaknya dan pesan terselubung dibalik nilai altruisme yang semestinya membawa kebaikan itu.

Pertama, pesan “di rumah saja” menjadi kabur. Sebab, pembagian sembako di jalan-jalan raya membuat orang berpikir lebih mudah meraih rezeki lewat daripada diam di rumah menunggu kebijaksanaan pak RT dan pembagian yang adil.

Kedua, donasi sporadis menyisakan pertanyaan: di mana koordinasi? Apa sulitnya bila semua donasi itu dipusatkan ke kementerian sosial, dinas sosial propinsi atau kabupaten, yang punya perangkat daerah, melalui gubernur, bupati, hingga camat dan lurah sampai kepala desa bisa dijadikan ranting kerja yang efisien dan tangguh.

Ketiga, banyak yang tidak menyadari bahwa kondisi pandemi virus corona tidak sama seperti bencana banjir, yang hitungan hari dan minggu bisa diselesaikan sambil bebersih.

Efek domino penularan virus corona mengharuskan semua orang berhenti. Berhenti keluar rumah, berhenti menjalankan hidup ‘seperti biasanya’, berhenti yang apabila tidak dipahami jalan keluarnya maka berarti berhenti hidup sama sekali.

Tidak semudah itu orang dianjurkan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Sebab, tidak semua orang bekerja sebagai pegawai kantoran yang terhubung dengan internet.

Tidak semua anak punya gawai untuk mengunduh tugas, apalagi jika orangtuanya hanya bisa berteriak-teriak menyuruh mereka belajar tanpa harus paham apa yang dipelajari.

Petinggi kita hidup di alam khayal, seakan-akan kualitas pendidikan kita seperti di Korea Selatan.


Belum lagi anjuran isolasi mandiri. Coba berkaca, berapa banyak keluarga yang jamban saja belum punya?

Beribadah di rumah pun, menjadi tantangan karena Presiden sendiri secara implisit membiarkan orang mudik, karena masuk kategori tradisi. Lebih tua mana, tradisi mudik atau ritus religi?

Dalam minggu ini, kesehatan jiwa dan raga dipertaruhkan. Satu-satunya kelompok usia yang beruntung di soal nutrisi barangkali bayi di bawah 6 bulan.

Selama mendapat ASI eksklusif, mereka masih aman. Pun bila ibunya tidak stres memikirkan nasib anak-anaknya yang lebih besar dan suaminya tidak lagi punya pekerjaan.

“Cadangan” gizi dan kekebalan tubuh di masa-masa seperti sekarang menjadi catatan penting. Lima kilo beras, beberapa kaleng sarden, sebotol minyak goreng, satu plastik gula pasir dan bungkusan biskuit tidak mungkin menjadi asupan rutin setiap hari selama sekian bulan.

Saat penerimanya sudah jenuh, maka mereka akan tumpuk di gudang dan dijadikan komoditas berdagang.

Mirip seperti penderita TBC yang tidak paham obatnya buat apa selama 6 bulan, apabila batuknya mereda maka ia akan menjual obat-obat gratisnya di pasar gelap demi beberapa lembar rupiah untuk beli rokok.

Ketimbang para kepala daerah bekerja sendiri, mengatas namakan diri sendiri, betapa mulianya bila mereka menggerakkan semua dinas terkait.

Mendirikan posko dapur umum yang mengantarkan makanan-makanan bergizi setiap hari, termasuk pembuatan makanan pendamping ASI – sesuai data penduduk yang bisa diperoleh dari RT dan RW, sehingga tidak mubazir.

Kita punya banyak ahli gizi dan nutrisionis, yang pastinya mau menjadi relawan juga, sebab “rumah sakit” mereka bernama “rumah sehat”, yaitu posko-posko bantuan pangan sesungguhnya.

Yang membuat rakyat bahkan bisa belajar, referensi dan preferensi pangan, di saat darurat maupun ketika sehat, nantinya.


Mumpung kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar memperbolehkan kendaraan logistik keluar masuk, maka pemerintah wajib melanggengkan rantai makanan berkesinambungan mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga peternakan sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional.

Mereka yang bertani, beternak serta mencari ikan tidak boleh terdampak menjadi pengangguran, palagi jalur pemasarannya terhenti.

Fokus penanggulangan ekonomi tidak boleh semata-mata berorientasi pada masyarakat eprkotaan.

Mungkin justru ini momen yang pas bagi pemerintah untuk mengambil alih kekuasaan kartel dan mendistribusikan kebutuhan pangan sehat, secara adil dan merata.

Judul tulisan ini akan menjadi terlalu ngeri bila saya elaborasi. Sebab terinfeksi Covid-19 maupun tidak, apabila anak yang sedang tumbuh kembang hanya makan sekadar untuk menahan lapar, bayangkan prevalensi stunting kita mau jadi apa?

Begitu pula orang-orang dengan penyakit tidak menular tapi rentan asupan pangan: penyandang diabetes, hipertensi, kanker, dan sindroma metabolik - bisa jadi hanya hitungan hari saja mereka bisa tumbang. Padahal, rumah sakit dipenuhi risiko tertular virus corona.

Anjuran “yang mampu membantu yang lumpuh” menjadi amat riskan di masa ini. Sebab, istilah mampu pun tidak bisa dianggap seperti donasi berwujud sinterklas, mengingat sinterklas hanya tampil setahun sekali.

Tindakan-tindakan karitatif tidak bisa dijadikan tulang punggung pengentasan kemiskinan serempak seperti saat ini.

Siapa yang bisa disebut golongan mampu? Yang punya pabrik? Yang punya kantor? Yang punya mobil?

Bukankah mereka juga orang-orang yang masih terlibat hutang miliaran, bahkan masih dipaksa mempekerjakan karyawan yang katanya bekerja dari rumah, mengenakan daster sambil menyuapi anak di depan laptop?

Seperti yang saya singgung sebelumnya, kesehatan jiwa pun dipertaruhkan. Saat sembako dibagi dan sinterklas mondar mandir menurunkan logistik, beberapa pelaku industri tanpa kita sadari menikmati iklan tanpa harus bayar, yang biasanya merek-merek itu ditutup dan dibuat kabur saat tayang di televisi.

Apabila di negara maju ‘gelombang kedua’ Covid-19 adalah kembalinya serangan virus berwajah mutasi, maka di negri ini gelombang susulan adalah dampak miskinnya tabungan.

Dari tabungan kesehatan hingga tabungan keuangan. Yang, apabila antisipasinya salah, perencanaannya tak terarah, belum lagi koordinasinya lemah, maka semua rakyat akan ketiban susah.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/15/202839920/sampai-kapan-manusia-bertahan-makan-seadanya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.