Salin Artikel

Ragam Tradisi Natal yang Bisa Dilakukan Bersama Keluarga

KOMPAS.com - Natal menjadi waktu yang tepat bagi banyak orang untuk berkumpul dengan keluarga.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan selama Natal, mulai dari pergi berlibur, memasak, bermain, hingga makan malam bersama.

Tapi, Natal tidak hanya dimanfaatkan untuk mengakrabkan kembali tiap anggota keluarga yang jarang bertemu.

Lebih dari itu, ada sejumlah tradisi spesial Natal yang wajib dilakukan dan akan terasa hambar apabila sampai terlewatkan.

Nah, untuk lebih jelasnya, simak daftarnya berikut ini, ya!

1. Lagu Natal

Lagu Natal menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika menjelang atau hari Natal tiba.

Sejarahnya, lagu Natal mulai dinyanyikan saat ibadah di gereja ketika orang Kristiani mengganti festival musim dingin yang biasa dirayakan orang-orang Pagan dengan Natal.

Saat itulah uskup di seluruh Eropa meminta himne tertentu untuk dinyanyikan pada kebaktian Natal.

Banyak komposer kemudian ingin menulis lagu Natal garapan mereka sendiri. Tapi, popularitas lagu Natal tidak langsung melejit karena selalu ditulis dalam bahasa Latin.

Baru pada tahun 1233, Santo Fransiskus dari Assisi mulai memainkan drama kelahiran Yesus, termasuk kidung yang menceritakan kisah kelahiran Kristus.

Bahasa yang dipakai selama drama disesuaikan dengan penonton agar mereka bisa mengerti bernyanyi bersama.

Sejak saat itu, lagu-lagu Natal selalu mudah diterima oleh telinga pendengar dan makin populer saat Natal tiba.

2. Perayaan 12 hari Natal

Tradisi Natal berikutnya yang masih bertahan hingga sekarang adalah 12 hari Natal.

Ini merupakan periode dalam teologi Kristiani yang menandai rentang antara kelahiran Yesus dan kedatangan tiga orang Majus.

12 Hari Natal dimulai tanggal 25 Desember atau tepat saat Natal dan berlangsung hingga 6 Januari.

Bagi Umat Kristiani, 6 Januari adalah Epifani atau juga disebut Hari Tiga Raja.

Ada pun, sebelum Natal tiba, biasanya Umat Kristiani akan mempersiapkan masa advent selama empat minggu dan berakhir tanggal 24 Desember.

Tradisi ini juga dijadikan lagu dengan judul "12 Days of Christmas".

3. Mengucapkan “selamat Natal”

Layaknya hari raya pada umumnya, Natal tak akan lengkap tanpa mengucapkan selamat Natal kepada keluarga dan orang lain.

Kebiasaan mengucapkan selamat Natal mulai banyak dilakukan ketika Charles Dickens menerbitkan cerita berjudul "A Christmas Carol" pada tahun 1843.

Di dalam cerita itu, ucapan "Merry Christmas" muncul 21 kali.

Charles Dickens juga mengutip "God Rest You Merry, Gentlemen" dalam A Christmas Carol, tetapi mengubahnya menjadi "God bless you, merry gentleman!"

4. Susu dan kue untuk sinterklas

Tradisi ini tidak banyak berubah sejak dimulai di Jerman abad pertengahan.

Selama musim Yule, anak-anak meninggalkan makanan di malam hari dengan harapan mendapatkan hadiah dari Odin, dewa Norse yang bepergian dengan kuda berkaki delapannya, Sleipnir.

Ada pun, dahulu Yule merupakan perayaan musim dingin yang digelar orang Jerman.

Lambat laun, tradisi ini diubah oleh orang Amerika dengan mengajari anak-anak untuk menyediakan susu dan kue sebagai cara memperhatikan kondisi orang lain.

Tidak hanya itu, menyediakan sus dan kue selama Natal juga menunjukkan rasa syukur atas berkat yang diterima.

Manusia salju pertama yang didokumentasikan muncul pada tahun 1380, tetapi mungkin tradisi membuat manusia salju sudah berlangsung jauh sebelumnya.

Manusia salju sangat populer selama Abad Pertengahan, ketika banyak yang tidak memiliki wadah untuk menunjukkan bakat seninya.

Alih-alih mencoba mencari perlengkapan seni, mereka memanfaatkan salju untuk dikreasikan.

6. Warna Natal

Natal sangatlah identik dengan warna merah dan hijau. Tapi, mengapa kedua warna ini dipilih?

Kamu perlu mengetahui bahwa warna hijau yang bisa dijumpai pada tanaman dan pepohonan melambangkan datangnya musim semi.

Sedangkan, warna merah diambil dari buah beri Evergreen Holly.

Tetapi alasan sebenarnya warna merah selalu dikaitkan dengan Natal karena sosok sinterklas yang sangat ikonik dengan mantel merahnya.

Ini merupakan interpretasi dari Haddon Sundblom, yang menggambarkan sosok Sinterklas dalam iklan Coca-Cola pada abad ke-20.

6. Pohon Natal

Tradisi Natal lainnya yang wajib ada dan tidak boleh dilewatkan adalah pohon Natal.

Baik pohon asli atau palsu, bisa menjadi pilihanmu untuk mempercantik rumah selama Natal.

Keberadaan pohon Natal di dalam rumah selalu dinantikan tiap orang agar bisa menghias dan berkumpul bersama keluarga.

Sebelum dikenal sebagai ikon Natal, orang-orang Pagan memajang ranting-rantingnya sebagai pengingat bahwa musim semi akan datang.

Sedangkan, orang Romawi menempatkannya di sekitar kuil untuk menghormati Saturnus sebagai Dewa Pertanian.

Seiring berjalannya waktu, pohon cemara mulai digunakan sebagai pohon Natal di Tallinn, Estonia, dan Riga di Latvia.

Pada abad ke-16, orang-orang Kristen di Jerman membawa pohon-pohon itu ke dalam rumah mereka sebagai simbol kehidupan abadi.

Tradisi ini kemudian sampai di telinga Ratu Victoria dan ia meminta suaminya yang berkebangsaan Jerman, Pangeran Albert, untuk memasang pohon Natal di istana.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/12/24/193000220/ragam-tradisi-natal-yang-bisa-dilakukan-bersama-keluarga

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.