Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

Masih terdengar orang batuk berdahak atau membuang ingus yang membuat pikiran ‘parno’.

Baik pendatang maupun masyarakat kota ini sudah tidak peduli lagi soal masker, jaga jarak atau bebersih diri.

Membuat saya semakin ketat menggunakan masker dan kian rajin cuci tangan sekali pun diundang makan malam.

Pulang kecolongan ‘membawa oleh-oleh’ virus jenis mutasi terbaru merupakan mimpi buruk.

Kurang lebih saya bisa memahami, mengapa Indonesia bertahan terhadap serangan aneka varian virus pandemi dan kita bisa siap-siap ‘gas pol’ untuk bangkit dari pengalaman menyakitkan yang merenggut nyawa dan dunia usaha.

Walaupun masih ada segelintir orang yang ‘nyleneh’, bahkan nyinyir terhadap upaya pencegahan termasuk vaksinasi, upaya nakes yang bersinergi dengan kerja keras pemerintah perlu diacungi jempol tinggi-tinggi.

Skenario bangsa Indonesia menanggulangi pandemi sebenarnya bisa dijadikan ‘template’ alias pola atau format umum cara kerja, dalam berbagai program nasional mengatasi masalah. Termasuk masalah gizi masyarakat.

Kegentingan dan urgensi mengatasi masalah menjadi gerbang utama menuju keberhasilan itu. Semua pihak bergerak cepat tanpa menunda untuk menjalankan 4 rangkaian layanan kesehatan sekaligus: upaya preventif dan promotif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Kita sebagai saksi hidup bagaimana tindakan pencegahan melibatkan seluruh bangsa, dimulai dengan slogan 3M: menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun – bahkan sampai detil 6 tahap cuci tangan 20 detik diajarkan ke sekolah-sekolah dan kantor pemerintah serta masyarakat luas.

Walaupun, butuh 2 tahun untuk akhirnya kita paham bagaimana memakai masker dengan benar -- akibat contoh simpang siur dari petinggi negara hingga selebrita.

Tak kalah hebohnya upaya promotif, publik mulai menyadari pentingnya paparan matahari sebagai sumber vitamin D, serta konsumsi sayur dan buah untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Bahkan, semua media berlomba menampilkan aneka talkshow bermutu dari para pakar untuk membuat publik semakin melek, tentang pentingnya lesehatan, terutama memerangi komorbid yang memperburuk kondisi mereka yang terlanjur terinfeksi Covid 19.

Perjuangan mati-matian para nakes sebagai garda terdepan, menjadi aset yang paling berharga saat para pasien tumbang membutuhkan upaya kuratif, pengobatan yang selalu mengikuti perkembangan terbaru, sementara aneka penyakit lain masih harus ditangani pada saat bersamaan.

Rumah sakit dengan tenda darurat dan langkanya oksigen, merupakan ingatan mengerikan bagi siapa pun di pertengahan tahun lalu.

Upaya rehabilitatif walaupun tidak terlalu populer terdengar, masih menjadi keprihatinan bersama bagi mereka yang terdampak efek jangka panjang infeksi, yang melibatkan gangguan aneka fungsi organ hingga risiko berbagai penyakit di masa depan, termasuk masalah kognitif dan diabetes – yang hingga kini masih menjadi kajian serius. Jadi, ini bukanlah ‘flu biasa’.

Uraian di atas, barangkali menjadi kaleidoskop singkat pandemi di tanah air yang oleh sebagian orang dianggap ‘sudah usai’, walaupun WHO belum secara resmi mendeklarasikan pandemi telah tuntas.


Selama dua tahun kita melihat bersama, betapa keuangan negara habis-habisan, perekonomian berbagai sektor terpukul, dan finansial keluarga tumbang.

Kita semua mati-matian berjuang, ibarat menahan atap rumah yang reyot dihajar hujan, sementara di dalam rumah masih ada anak-anak yang masih tumbuh, perlu makan, dan belajar.

Bukanlah hal yang berlebihan jika di momen peringatan kemerdekaan ke 77, seluruh elemen bangsa ini dengan haru dapat menyaksikan keberhasilan kita bersama menyelamatkan yang bertahan dan mendorong yang sudah berhasil menciptakan kemajuan.

Sementara komentar nyinyir masih bermunculan. Biarlah. Bisa jadi bagian dari senandung sengau yang selalu ada, karena kenyataan tidak selamanya harus sesuai dengan harapan.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, kunci ada di sinergi. Dan pemerintah telah sukses menciptakan sinergi itu.

Kolaborasi berimbang yang sejalan dengan panduan. Dipuji WHO, dijadikan contoh yang membanggakan. Karena pemahaman promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang memang sesuai dengan penanganan pandeminya.

Mimpi saya, penanganan masalah gizi juga bisa mengikuti jejak yang sama. Upaya promotif preventif yang tidak dikacaukan dengan tindakan kuratif.

Menyusui eksklusif dan diteruskan hingga 2 tahun atau lebih, MPASI berbahan lokal tapi memenuhi kaidah kualitas dan kuantitas menjadi edukasi publik yang tidak dibayang-bayangi kepentingan sepihak yang mengaburkan literasi edukasi gizi.

Tenaga kesehatan yang kompeten, mestinya memahami kedudukan intervensi medis termasuk pemberian aneka susu buatan yang tidak boleh disejajarkan sebagai pengganti ASI.

Begitu pula saat anak sehat belum tercebur dalam kurva gizi buruk, semestinya posyandu menjadi garda terdepan mengajarkan pemberian makanan tambahan berbahan lokal yang bermutu, bukan membagi ‘kantong oleh-oleh’ produk kemasan sarat gula selepas anak imunisasi.


Dibutuhkan pemahaman aklamasi bebas kepentingan tentang pemberian makan bayi dan anak, sehingga tenaga pelaksana gizi tingkat puskesmas tidak minder disandingkan dengan dokter spesialis anak, sebab keduanya mempunyai ranah mengurus publik yang berbeda kondisi. Dan tentunya tidak bisa diandaikan ‘siapa lebih pintar’.

Jika ini masih tidak bisa dijembatani, saya khawatir kasta nakes masih akan terus terbawa-bawa sejak zaman penjajahan – di mana perawat pada waktu itu dianggap hanya sebagai ‘pembantu dokter’.

Sudah waktunya pula pemerintah mempunyai ketegasan campur tangan bisnis di balik cadar ‘percepatan penuntasan stunting’ – sehingga tidak ada lagi bagi-bagi susu kemasan di posyandu berimbas diare masal, akibat intoleransi laktosa etnik asia tenggara, yang tidak bisa disangkal karena bagian dari bawaan genetik.

Para petinggi pemerintah mestinya bisa menyaksikan apa yang terjadi di level akar rumput, akibat edukasi yang salah: semakin suburnya aneka dagangan yang berkasta, sampai terjadi kasus kriminal seorang ayah berubah jadi maling demi sekaleng susu mahal.

Sebab bayinya mencret pakai ‘susu kaleng biasa’. Sementara sang ibu masih menghasilkan ASI – tapi dihujat miskin gizi, bening, bahkan disebut basi.

Perbaikan pemberian makan bayi dan anak sudah saatnya masuk dalam studi berbasis bukti, yang mengangkat pangan lokal di seluruh tanah air, sehingga rakyat Indonesia bukan hanya pulih dari kondisi masalah gizi lebih cepat, tapi juga membangun generasi masa depan bangkit lebih kuat.

Bisa dibayangkan, apa jadinya bila era pandemi, kita membiarkan masyarakat terusik hoax simpang siur tanpa ada yang meluruskan situasi?

Bangsa kita lekas pulih dan bangkit karena semakin banyak yang melek literasi, terpapar edukasi, bukan goyah akibat tayangan tik tok yang penuh sensasi.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/08/22/100500520/pulih-lebih-cepat-bangkit-lebih-kuat

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.