Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

10 Tips Parenting untuk Melatih Kedisiplinan Anak

KOMPAS.com - Melatih kedisiplinan pada anak adalah hal yang penting dan akan berpengaruh pada perkembangan karakternya saat ia dewasa.

Kedisiplinan dalam parenting bukan hanya memberikan aturan dan batasan yang harus dipatuhi, tapi juga bagaimana membimbing anak dengan penuh kasih sayang agar dia dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang bertanggung jawab dan berempati.

Berikut 10 tipsnya seperti dikutip dari laman Verywell Family.

1. Anak boleh dimarahi

Sebagian orangtua mungkin merasa bersalah jika memarahi anak sehingga cenderung membiarkan anak berperilaku seenaknya.

Padahal marah juga sesuatu yang normal dan tidak masalah jika tujuannya membentuk anak memiliki pribadi yang lebih baik.

"Jadilah orangtua, bukan teman. Artinya, kita tidak boleh takut dilihat jahat. Anak mungkin bisa marah pada kita, tetapi kita harus bisa menanganinya. Jika tidak, ia akan menjadi anak yang menjengkelkan," kata Lori Freson, seorang terapis pernikahan dan keluarga bersertifikat yang berbasis di California, Amerika Serikat.

"Tak ada salahnya membiarkan anak sesekali gagal agar dia dapat belajar menghadapi pasang surut kehidupan? Tidak ada seorang pun yang sukses dalam segala hal tanpa merasakan gagal," katanya lagi.

2. Perlakukan anak dengan hormat

Jika kita marah atas perilaku anak, sebaiknya hindari tindakan memukul atau bersikap keras padanya untuk menangani konflik.

"Jika merasa marah pada saat itu, luangkan waktu untuk menyendiri dan menjauhlah. Kembali lagi nanti dan buat rencana menegakkan kedisiplinan," jelas Gail Saltz, psikiater, psikoanalis, penulis buku terlaris yang berbasis di AS.

Orangtua pun dapat memberi nasihat pada anak dengan nada tegas, namun terukur. Cara ini akan lebih efektif daripada emosi amarah yang tak terkendali.

3. Sesuaikan gaya parenting berdasarkan usia

Menyesuaikan usia anak untuk membuat cara menegakkan kedisiplinan serta batas-batas di dalam keluarga.

Terlebih jika anak memasuki usia remaja, emosinya yang tidak stabil dan sulit mereka kendalikan terkadang membuat mereka mengambil keputusan yang keliru.

"Semakin Anda bisa membangun hubungan yang demokratis di masa remaja, mereka bakal tumbuh dan menyukai serta menghargai kita di masa depan," jelas Seth Meyers, psikolog yang berbasis di AS.

4. Berikan instruksi yang efektif

Hindari memberikan arahan atau instruksi yang itu-itu saja agar anak bisa mematuhi apa menjadi batasan atas perilakunya.

David Johnson, seorang terapis pernikahan dan keluarga yang bersertifikat mengatakan, cara lainnya adalah dengan memberikan instruksi yang efektif.

"Kalau kita terus mengatakan hal yang sama kepada anak berulang kali sebelum mereka merespons, itu artinya kita sedang melatih mereka untuk mengabaikan kita," tutur Johnson.

5. Membiarkan anak merasakan konsekuensinya

Terkadang, anak perlu merasakan konsekuensi akibat pilihan salah yang mereka ambil. Contohnya anak menolak membawa mantel di musim hujan.

Sesekali, orangtua perlu membiarkannya merasa kedinginan karena itu memang pilihannya sejak awal.

6. Belajar mencari solusi bersama

Mencari solusi bersama dapat menggantikan hukuman dan membantu mengembangkan perilaku yang bertanggung jawab dan hormat pada anak, atau remaja.

Bonnie Harris, pelatih parenting dan direktur Connective Parenting mengatakan, hukuman adalah taktik manipulatif yang tidak mengembangkan karakter dan empati.

Justru hukuman pada anak dapat mengembangkan perilaku intimidatif.

Hal itu bisa terjadi karena anak-anak tidak belajar melalui rasa takut dan paksaan.

Perilaku mereka yang tidak dapat diterima merupakan pertanda mereka punya masalah, bukan menjadi masalah.

Bonnie Harris menyarankan agar anak yang tidak patuh pada arahan atau melanggar kedisplinan lebih baik diajak komunikasi untuk memecahkan masalah bersama.

7. Menggunakan kedisiplinan untuk mendidik, bukan menghukum

Sebagai orangtua, pahami makna dari displin. Ini semua tentag pengajaran, mendidik, dan bukan hukuman atau ancaman.

Beri anak pemahaman tentang artinya batasan dalam perilaku dan semua itu penting untuk mereka pahami, karena tujuan dan manfaatnya demi diri mereka sendiri.

8. Berikan pujian atas perilaku positif

Menegakkan kedisplinan pada anak memerlukan adanya keseimbangan. Pujilah mereka karena sudah mematuhi batasan yang ditetapkan dalam keluarga.

Menurut Dana Obleman, penulis "Kids: the Manual", kebiasaan memuji anak ini bisa membuat mereka merasa bangga.

"Akan tumbuh keinginan untuk menyenangkan kita sebagai orangtua jika mereka dipuji, dan ini bisa mengakar kuat sampai mereka dewasa," jelas Obleman.

9. Konsisten dengan aturan

Sebagai orangtua, kita perlu menerapkan aturan atau kedisiplinan secara konsisten. Hal itu bertujuan agar anak tidak merasa kebingungan tentang peraturan yang sudah dibangun.

"Bersikaplah konsisten. Disiplin yang tidak konsisten justru memperkuat perilaku negatif karena anak akan terus melakukan kesalahan, karena mereka menganggap kesalahan itu mungkin bisa dimaklumi," ungkap Susan Bartell, seorang psikolog.

10. Selesaikan masalah yang ditimbulkan akibat perilaku anak

Nancy Buck, seorang psikolog perkembangan anak dan pendiri Peaceful Parenting mengatakan, masalah yang dibuat anak menunjukkan ada sesuatu yang ia butuh dan inginkan, tapi tidak tahu cara mendapatkannya, sehingga mereka berperilaku keliru.

Sayangnya, menurut dia orangtua seringkali berupaya menyelesaikan masalahnya dan tidak sempat menyelesaikan masalah anak.

https://lifestyle.kompas.com/read/2023/11/13/160000320/10-tips-parenting-untuk-melatih-kedisiplinan-anak

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke