Karya Baru dari Keluhuran Masa Lalu

Kompas.com - 22/05/2008, 13:16 WIB
Editor

Batik yang telah dikenal masyarakat Indonesia sejak berabad silam terbukti berhasil bertahan hingga kini. Bahkan selama dua tahun terakhir ini batik dipakai oleh hampir setiap orang. Batik telah menjadi baju gaul terbaru. Edward Hutabarat (Edo), perancang busana yang menggagas kembalinya tren batik katun, justru khawatir dengan fenomena tersebut.

"Batik memang sedang booming, tetapi apakah bisa bertahan lama?" cetus Edo. Menurut perancang yang telah menggeluti batik selama hampir 10 tahun ini, seharusnya tren batik ini juga dibarengi dengan upaya pelestarian kain Indonesia yang telah diakui unggul dalam teknik pembuatan dan ragam hias ini.

"Semua orang berebut bikin batik, tapi tak seorang pun berpikir untuk membuat website tentang batik-batik kita yang hampir punah," papar Edo berapi-api.

Part One, adalah label busana siap pakai karya Edo sebagai dedikasinya terhadap akar budaya negeri ini. Ia mengemas batik dengan inovasi baru. Di tangan Edo, batik diperkenalkan dengan pikiran Barat, tetapi tetap mempertahankan mata ketimurannya.

Bersama dengan pengrajin batik di sentra-sentra tradisional di daerah, Edo mengubah batik menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh masyarakat global tanpa mengubah ciri khasnya. "Saya ingin membuat batik yang cocok dipakai dengan sepatu Guess atau tas Hermes," paparnya.

Dalam koleksi terbarunya, Batik The Upper Ground, Edo kembali membuat berbagai karya dengan menggunakan motif batik dari berbagai daerah, seperti Laweyan, Pekalongan, Cirebon, Gentong, Lasem, dan sebagainya. Edo juga bekerja sama dengan seniman kain Baron Manansang.

Sebanyak 80 gaun malam yang dibuat dari batik telah disiapkan Edo untuk peragaan busana yang akan dilakukan Sabtu (24/5) di Hotel Sultan, Jakarta. Selain katun, Edo juga menggunakan bahan organdi, satin, serta sutra Cina. Yang istimewa, Edo membuat gaun yang merupakan replika kain gendong dari tahun 1920. Aneka motif tradisional pun tampil cantik, ringan, dan modern.

Meski telah lama menetapkan diri sebagai perancang yang hanya membuat busana nasional Indonesia, Edo menolak disebut pembatik. "Saya tidak membuat batik, saya hanya menggali batik kuno dan meminta pengrajin membuat replikanya. Tetapi dengan keunikan dan kualitas tinggi," kata pria yang pernah meraih tanda kehormatan Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah Indonesia tahun 2001 ini.

Lewat hasil rancangannya, Edo bertekad agar membuat batik selalu mendapat tempat. "Saya ingin memperlihatkan bahwa batik memang unggul di masa lalu. Harus tetap unggul pada masa kini dan yang akan datang," katanya optimis.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X