Terbang Bersama Kebaya - Kompas.com

Terbang Bersama Kebaya

Kompas.com - 26/09/2010, 11:50 WIB

KOMPAS.com - Ketika orang asing belum mengenal Indonesia, mereka sudah lebih dulu mengenal maskapai penerbangan Garuda Indonesia dari seragam pramugarinya,” kata Josephine Werratie Komara atau Obin, desainer yang ikut merancang seragam baru maskapai penerbangan Garuda Indonesia periode tahun 2010.

Dulu, sekitar tahun 1970-an, pramugari Garuda Indonesia selalu menarik perhatian orang. Setiap kali pesawat maskapai penerbangan ini mendarat di luar negeri, hampir semua mata memandang ke arah pramugari Garuda yang ketika itu berseragam kebaya dan berkain jarik. Kebaya tersebut berbahan brokat yang berlubang-lubang.

”Ada keanggunan yang membuat banyak orang kagum,” tutur Obin.

Hidup Obin dekat dengan Garuda sehingga ia selalu mengikuti perjalanan sejarah maskapai penerbangan nasional itu. Ayah Obin adalah pendiri biro perjalanan pertama di Jakarta.

Selama hampir empat dekade, seragam awak kabin Garuda Indonesia berganti dari kebaya menjadi rok dengan setelan baju safari; rok terusan mini, seperti baju tenis yang didesain oleh Pierre Cardin; hingga rok panjang dan baju panjang seperti baju kurung; lalu berubah lagi menjadi rok panjang dengan baju lengan pendek.

Obin yang bekerja secara sukarela untuk Garuda ingin mengembalikan seragam Garuda kembali ke kebaya. Menurut Obin, kebaya itu sangat pas dengan siluet tubuh orang Indonesia. Selain itu, kebaya juga menjadi ciri khas berbusana sebagian besar masyarakat Indonesia.

Obin tetap memadukan kebaya dengan kain. Namun, agar lebih praktis dalam pemakaian, ia sudah memodifikasi kain yang akan dipakai pramugari Garuda. Kain yang lengkap dengan wiron (lipatan di bagian depan kain) itu bisa langsung dipakai seperti memakai rok panjang tanpa harus repot melilitkannya di pinggang.

Praktis dan nyaman
Perancang Musa Widiatmodjo juga mengangkat kebaya ketika merancang pakaian seragam maskapai penerbangan Mandala Airlines. Namun, karena alasan kepraktisan, ia memadukan kebaya itu dengan celana panjang.

”Pakaian seragam itu untuk bekerja, jadi desainnya harus mempertimbangkan unsur kepraktisan, keleluasaan gerak, dan kenyamanan. Pramugari itu kerjanya berat,” kata Musa.

Kalau Mandala dan Garuda mengangkat kebaya, Lion Air justru memakai seragam model cheongsam sejak tahun 2000 pada saat maskapai penerbangan itu pertama kali beroperasi. Model cheongsam dipilih karena dianggap tidak cepat ketinggalan zaman.

”Selain menjadi model yang tak akan ketinggalan zaman, cheongsam juga dinilai cocok untuk dipakai pramugari dari beragam usia,” kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait, pertengahan September lalu. Model seragam pramugari Lion Air ini ditentukan sendiri oleh perusahaan tanpa campur tangan perancang busana.

Baju cheongsam ini dipadu dengan rok panjang dengan belahan yang tingginya hingga sepaha. ”Kami memperhitungkan fleksibilitas gerak pramugari untuk kepentingan tugas mereka. Tinggi belahannya bahkan telah diperhitungkan, termasuk saat pramugari harus berlari pada situasi tertentu. Apalagi, setiap pramugari melakukan uji coba saat fitting pakaian. Jadi, ukuran saat fitting sama seperti yang dilakukan saat bertugas,” tutur Edward.

Tahan api
Seragam pramugari benar-benar mempertimbangkan faktor estetika dan kegunaan. Saat bertugas, pramugari tidak hanya dituntut tampil cantik dan elegan, tetapi juga harus gesit dan cekatan melayani penumpang. Dalam keadaan darurat, ia harus bergerak cepat untuk menyelamatkan penumpang.

Obin membuat motif kain yang inspirasinya diambil dari motif lereng gondosuli. Ia lalu menambahkan motif sayap burung garuda dan titik-titik kecil yang melambangkan bunga melati.

Tata letak lereng (miring) pada kain, menurut Obin, tampak lebih elegan jika dipakai. Kain yang dikenakan memiliki belahan di bagian depan setinggi lutut sehingga membuat pramugari leluasa bergerak.

Untuk kebaya, sebelumnya Obin mendesain model kebaya kutu baru, tetapi tim panelis seragam Garuda memilih kebaya gaya kartini karena alasan lebih praktis. Pertimbangan kedaruratan membuat pihak Garuda Indonesia memilih material kain campuran katun dan polyester yang tahan api dan tidak mudah kusut.

Seragam Garuda tidak lagi hanya berwarna biru tua dan hijau tosca, tetapi juga jingga. Warna seragam yang akan dikenakan secara bertahap mulai bulan Oktober mendatang ini disesuaikan dengan warna baru pada kabin pesawat yang didominasi coklat terakota, jingga, dan merah bata. Selain awak kabin, seragam Garuda juga akan dipakai untuk unit lain.

Musa mempertimbangkan banyak hal sebelum memilih material untuk seragam Mandala. Salah satunya adalah kekuatan bahan terhadap gesekan. Sepanjang pengamatannya, pakaian pramugari rentan rusak akibat bergesekan dengan sabuk pengaman yang dikenakan.

Salah satu pertimbangan itu membuat Musa memilih bahan polyester hightwist (yang dipilin dua kali) sehingga kuat dan tidak mudah berbulu kalau dicuci. Material tersebut juga tidak mudah lecek sehingga cocok untuk keperluan perjalanan. Untuk Mandala, Musa memakai motif kain lurik dan batik truntum sebagai simbol kebahagiaan. Batik dipilih karena lebih dikenal masyarakat luas.

(Lusiana Indriasari/Yulia Sapthiani)


EditorDini
Close Ads X