Menjadi "Smart Woman" yang Tahu Passion-nya

Kompas.com - 29/05/2011, 00:03 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Pemikiran konservatif memposisikan smart woman sebagai perempuan yang memiliki nilai akademis tinggi, memiliki standar IQ di atas rata-rata orang normal, dan definisi lain yang mempersempit makna tersebut. Padahal, smart woman pada masa kini adalah wanita yang bisa menempatkan dirinya dimanapun ia berperan. Ketika berada di kantor, smart woman adalah wanita yang bisa menjadi karyawan yang berkualitas, namun ketika di rumah ia menjadi istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

"Smart woman adalah wanita yang memiliki hati seorang ibu, namun memiliki pemikiran selogis pemikiran pria," ujar Jami Lydia Rahardjo, penulis buku Smart Woman saat talkshow "Smart Woman, Mother's Heart and Men's Brain" dalam acara Women Fiesta di Gandaria City, Jakarta, Jumat (27/5/2011) lalu.

Menurut Jami, smart woman adalah hal yang kompleks dimana wanita harus bisa melakukan perannya dengan seimbang. Sebagai seorang wanita lajang misalnya, smart woman adalah wanita yang bisa menentukan tujuan hidupnya, tahu apa yang menjadi passion-nya.

"Ia bisa menjadi independent happy single, sehingga ketika menikah juga bisa tetap happy," ujar Jami.

Lalu smart woman sebagai seorang istri adalah wanita yang bisa menjadi penolong bagi suaminya. Bisa memberikan layanan dan perawatan yang maksimal. Sebagai ibu, smart woman mampu menjadi role model bagi anak-anaknya, yakni menjadi family coach yang mendidik anak-anak sejak dini mengenai nilai-nilai moral dan spiritual. Smart woman dalam keluarga juga merupakan wanita yang bisa menjadi teman yang baik bagi anak-anak maupun suami. Sebagai ibu, perempuan harus bisa memberikan teladan bagi anak-anaknya.

"Persiapkan apa yang bisa dikenang oleh anak-anak dari kita seratus tahun ke depan. Karena wanita itu harus berbuah-buah. Membawa buah tangan ke rumah, mewariskan buah karya, juga harus bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain," ungkap Jami.

Dalam karier, seorang perempuan harus bisa menempatkan diri sehingga berguna bagi perusahaan tempatnya bekerja. "Karyawan itu ibarat puzzle, jadilah the right woman in the right place agar kita bisa menjadi karyawan yang bisa menyatu dengan perusahaan seperti potongan puzzle yang melengkapi sebuah puzzle utuh," jelas Jami.

Apabila suami tidak mengizinkan untuk bekerja di luar rumah, hal pertama yang harus dilakukan adalah membicarakan dengan suami. Larangan suami tentu ada sebabnya. Sebab-sebab itulah yang harus diketahui istri dan dibicarakan berdua. Apabila memang tidak bisa dikompromikan lagi, istri bisa mencari jalan keluar lain untuk tetap bisa membantu keuangan keluarga, yakni dengan melakukan pekerjaan di dalam rumah, dengan segala kreativitas yang dimilikinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, smart woman juga harus bisa menampilkan kecantikan dari dalam. Menurut Jami, kecantikan dari dalam diri seorang wanita akan terpancar apabila wanita memiliki hati yang penuh syukur, hati yang penuh kedamaian, dan hati yang ikhlas memberi. "Jangan memikirkan apa yang tidak kita punyai, tapi pikirkan apa yang telah kita miliki dan apa yang bisa kita bagi bagi orang lain," tutupnya.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X