Pemain Harpa yang Ingin Bangun Rumah Sakit - Kompas.com

Pemain Harpa yang Ingin Bangun Rumah Sakit

Kompas.com - 01/06/2011, 09:51 WIB

KOMPAS.com - Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo, atau yang lebih dikenal dengan Mesty Ariotedjo, adalah sosok perempuan muda yang layak menjadi contoh bagi perempuan-perempuan Indonesia lainnya. Perempuan kelahiran Jakarta, 25 April 1989 ini terpilih sebagai brand ambassador Nivea pertama yang berasal dari Indonesia.

Mesty bukanlah artis terkenal, namun ia punya sejumlah talenta yang layak ditunjukkan. Sejak usia 4 tahun, anak perempuan satu-satunya dari pasangan Arie Prabowo Ariotedjo dan Ati Ariotedjo ini, sudah mulai bermain musik, meskipun belum serius.

"Bermain musik itu hanya hobi. Prioritas utama saya adalah di bidang kesehatan. Tetapi setelah saya mulai mendalami musik, saya jadi ingin punya album sendiri," ungkap mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini pada Kompas Female, usai pemilihan Brand Ambassador Nivea di Jakarta, Selasa (31/5/2011) lalu.

Seperti impian para perempuan muda lain, Mesty juga sempat menunjukkan minat di dunia modeling. Minatnya tumbuh saat bersekolah di SMA 8 Jakarta, dimana ia terpilih sebagai prom queen. Ketika mulai kuliah, sosoknya kerap tampil di sejumlah majalah gaya hidup wanita dan menjadi model iklan beberapa merek ternama, seperti LG dan Honda. Puncaknya pada tahun 2010, ketika Mesty ditunjuk sebagai salah satu model Rumah Mode Biyan Wanaatmadja untuk koleksi 2010.

Sambil menjalani kegiatan modeling, penggemar olahraga menyelam dan Pilates ini juga terus mengasah kemampuan bermusiknya. Selain mahir bermain piano sejak tahun 2002, ia juga tekun mempelajari flute di bawah bimbingan Widayanto sejak tahun 2007. Baru pada tahun 2008 ia memelajari harpa di bawah bimbingan Heidi Awuy. 

Dalam waktu singkat, Mesty mengantongi gelar Merrit dari Associated Board of The Royal Schools of Music untuk permainan harpanya. Ia kemudian menerima banyak undangan untuk memamerkan kemampuannya bermain harpa di stasiun televisi nasional. Terakhir, ia menyumbangkan permainan harpanya di konser seni tentang perempuan yang diadakan Yayasan Dian Sastrowardoyo.

Kecintaan terhadap musik klasik mengantarkan Mesty menjadi duta dari Yayasan Musik Sastra Indonesia dan pelopor program Children in Harmony, yakni pendidikan musik gratis bagi anak-anak kurang mampu.

"Saya dan musisi lainnya akan memainkan musik klasik di sekolah-sekolah negeri di daerah Jakarta Selatan, sekaligus akan membagikan CD musik klasik agar para siswa bisa mengenal musik klasik. Setelah itu kami akan serahkan kepada para guru untuk menyeleksi siswa-siswa yang berminat, tapi kurang mampu, dan bisa koperatif untuk diajarkan musik klasik. Awalnya akan kami coba pilih 15 anak dulu. Kami akan melihat progresnya selama enam bulan untuk ditampilkan ke masyarakat," jelas Mesty.

Mesty bercita-cita menjadi orang yang berkarya dan dapat menginspirasi orang lain, seperti para tokoh idolanya: Frederic Chopin, Tchaikovsky, Guruh Soekarnoputera, Chrisye, Ananda Sukarlan, dan Oprah Winfrey. Oleh karena itu, sambil terus mempersiapkan skripsinya di FKUI, menjalani aktivitas modeling, Mesty juga aktif di beberapa kegiatan sosial. Salah satunya adalah Yayasan Jantung Indonesia, dimana Mesty dipercaya menjadi pembicara di The World Heart Federation in Fighting Non-Communicable Disease. Saat memeringati Hari Anti Tembakau tahun ini Mesty juga melakukan aksi damai bersama 1000 orang lainnya di balai kota.

"Banyak orang yang baru berhenti merokok setelah penyakitnya parah. Sebagai calon dokter yang sudah terjun langsung menghadapi pasien, lebih dari 60 persen pasien yang datang adalah pasien yang penyakitnya disebabkan oleh rokok," ungkap Mesty. Melalui kampanye anti rokok yang dilakukannya, ia berharap masyarakat Indonesia terutama kaum muda untuk mulai menghindari rokok.

"Mungkin banyak yang berpikir bahwa merokok hanya merugikan diri sendiri, sehingga mereka cuek. Padahal merokok juga merugikan orang lain. Saya punya kasus pasien dengan kanker paru adenokarsinoma, yaitu kanker yang penyebab terbesarnya karena rokok. Tapi pasien saya tidak merokok, jadi dia ini perokok pasif. Dia tidak merokok, tapi terserang kanker karena menghirup udara dari perokok aktif," ujarnya prihatin.

Meski telah memiliki sejumlah prestasi, Mesty mengaku tidak akan berhenti mewujudkan mimpinya yang lain. Setelah lulus sebagai dokter umum dari UI, Mesty berniat melanjutkan pendidikan S2 dengan fokus kepada kesehatan masyarakat. Ia memimpikan, suatu hari dapat mendirikan rumah sakit umum dan memberi asuransi kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.


EditorDini

Close Ads X