Susahnya Lepas dari Xanax

Kompas.com - 29/12/2012, 07:54 WIB

KOMPAS.com - Beberapa kasus ketergantungan Alprazolam (kebanyakan dari merk Xanax) sering kali datang kepada saya untuk meminta pertolongan agar sembuh dari ketergantungan ini. Kebanyakan pasien sudah bertahun-tahun memakai Alprazolam (Xanax) bahkan ada yang sudah 22 tahun memakai obat ini.

Pemakaiannya pun bukan dosis kecil lagi tetapi sudah sampai dosis minimal 3-10 milligram perhari. Di bawah ini akan saya ungkapkan kasus-kasus sulit ini dan bagaimana cara penanganan di awal agar menjadi lebih paham buat pembaca sekalian.

Kasus 1.
(Selama
22 Tahun Lebih Menggunakan Xanax)

Pasien laki-laki usia 52 tahun, pertama kali memakai Xanax sekitar 22 tahun yang lalu sejak pulang dari luar negeri untuk sekolah. Awalnya memakai obat-obatan golongan benzodiazepin dari psikiater di tempatnya sekolah dulu. Pasien kemudian sejak itu tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap Xanax. Ketergantungannya ini juga sangat berhubungan dengan merek, artinya tanpa menggunakan Xanax pasien tidak bisa menggunakan Alprazolam merek lain. Saat ini dosis Xanax yang digunakan 6-8 miligram perhari. Pasien sudah berkonsultasi selama 1 tahun, belum ada perubahan berarti. Pernah mencoba melakukan upaya Cold Turkey (berhenti sama sekali) namun mengalami efek putus obat yang berat seperti menggigil, lemas, kelelahan yang sangat, seperti tidak bertulang, keluar keringat dingin dan pikiran menjadi tidak bisa "digunakan". Jika tidak memakai xanax, pasien tidak bisa berpikir dan bekerja seperti biasa. Kalau memakai xanax, pasien "normal" kembali. Salah satu faktor kesulitan dalam pengobatan pasien ini adalah, tidak ada obat yang cocok yang bisa menggantikan peran xanax untuk mengatasi kondisi fisik dan psikologis yang dialami pasien.

Kasus  2.
(Selama
10 Tahun menggunakan Xanax)

Pasien laki-laki usia 48 tahun, pertama kali menggunakan xanax sekitar 10 tahun yang lalu. Dosis saat itu hanya 0.5mg digunakan untuk membuat pasien tidur lebih nyeyak,. Resep saat itu diberikan oleh dokter umum dan kemudian oleh pasien diteruskan makan xanax tersebut terus menerus sampai saat ini. Dosis saat ini berkisar antara 6-7 miligram perhari terbagi menjadi 3 kali pemakaian. Pasien awalnya dikonsultasikan kepada saya karena dokter interna dan dokter bedah yang ingin melakukan operasi kepada pasien meminta pasien untuk menghentikan penggunaan xanax yang saat itu sudah mencapai 3x2mg perhari. Penghentian tiba-tiba saat itu dilakukan oleh dokter dan menimbulkan gejala putus zat yang mengganggu pasien. Pasien kemudian dikonsulkan kepada saya. Sama seperti kasus 2, salah satu faktor kesulitan dalam menangani pasien adalah pasien tidak pernah merasa cocok mendapatkan obat selain xanax untuk mengatasi kondisi kecemasan dasarnya. Sampai saat ini pasien masih berkonsultasi.

Kasus 3.
(Ibu Rumah Tangga menggunakan Xanax 1 tahun)

Pasien wanita usia 37 tahun dengan keluhan kecemasan yang membuatnya tidak nyaman. Saat itu pasien berkunjung ke psikiater dan diberikan obat xanax 0,25mg sebanyak 3x sehari. Pasien kemudian lepas kontrol dari psikiater dan membeli obat berdasarkan resep dokter umum selanjutnya. Pasien kemudian makan obat dengan dosis 3x0,5mg dan terkadang menambah dosis sendiri menjadi 3x0,75mg jika merasa tidak nyaman. Pemicu tidak nyaman adalah kondisi kelelahan mengurus anak dan dukungan keluarga yang kurang. Pasien sering kali merasa tidak nyaman dan pikiran satu-satunya adalah menambah dosis xanax. Pengobatan dengan obat antidepresan untuk mengurangi perasaan cemasnya tidak membuat pasien beralih dari xanax dan terus mengkonsumsi xanax sampai saat ini.

Pembahasan

Ketiga kasus penggunaan alprazolam di atas memang sangat sering terjadi di dalam praktek sehari-hari. Pasien seringkali tanpa sadar memakai obat anticemas golongan benzodiazepin seperti alprazolam (dengan merk terkenalnya xanax). Awalnya biasanya digunakan untuk membantu tidurnya atau perasaan cemas terkait gangguan fisik (jantung berdebar, perut kembung).

Terkadang juga sering digunakan dalam racikan obat yang digunakan oleh berbagai macam dokter untuk mengatasi keluhan-keluhan psikosomatik. Obat alprazolam (xanax) adalah salah satu jenis obat cemas golongan benzodiazepin yang paling efektif. Dengan efektivitas yang sangat poten dan waktu kerja yang pendek, tidak heran obat ini sering digunakan dan juga sering kali digunakan beberapa kali dalam sehari. Sayangnya, obat ini mempunyai efek untuk menghasilkan toleransi (dosis semakin meningkat) dan ketergantungan yang berat pada pasien jika tanpa pengawasan yang tepat dan bijak.

Kebutuhan penggunaan akhirnya bisa menjadi suatu ketergantungan fisik dan psikis. Apalagi pada pasien yang menggunakan alkohol atau dengan riwayat penyalahgunaan zat narkotika. Pasien-pasien seperti ini bila menggunakan alprazolam akan cenderung terus naik dan sulit lepas. Penanganan yang baik haruslah dimulai dengan pengenalan dasar gejala mengapa sampai pasien menggunakan alprazolam. Pasien perlu menggunakan obat alprazolam pastinya bukan karena tanpa alasan. Kondisi kecemasan dan insomnia adalah latar belakang tersering orang mulai menggunakan alprazolam.

Pada pengobatan yang lebih baik adalah menggunakan obat pengganti alprazolam yang setara seperti clonazepam atau diazepam. Namun pada dosis tinggi (lebih dari 2miligram alprazolam perhari) pasien biasanya tidak bisa tiba-tiba menghentikan alprazolam tetapi harus melakukan penurunan dosis perlahan (tappering off). Penggunaan antidepresan seperti sertraline atau fluoxetine juga bisa membantu untuk mengatasi kecemasan dan mengurangi penggunaan obat alprazolam pada akhirnya. Pasien perlu menyadari dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berhenti dari alprazolam. Kalau tidak ada niatan untuk berhenti akan percuma. Satu yang paling penting segeralah berkonsultasi jika anda telah menggunakan alprazolam untuk waktu lama.

Salam Sehat Jiwa


EditorAsep Candra

Close Ads X