Kini Siswa SMK Tata Busana Tak Hanya Diajarkan Menjahit - Kompas.com

Kini Siswa SMK Tata Busana Tak Hanya Diajarkan Menjahit

Kompas.com - 14/03/2015, 10:00 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KUDUS, KOMPAS.com - Banyak cara untuk mengembangkan industri fashion dalam negeri, termasuk fashion muslim yang dalam beberapa tahun belakangan mencatat perkembangan signifikan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pendidikan berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tata Busana. Agar mampu mengembangkan industri fashion, maka para siswa kini dibekali pula beragam keterampilan terkait. 

Para siswa SMK Tata Busana kini tidak hanya belajar menjahit. Meski menjahit merupakan keahlian dasar yang mereka pelajari, namun mereka juga diajarkan mengoperasikan beragam alat bantu jahit yang canggih agar mampu berkarya dengan optimal. 

"Langkah awal memang diajarkan membuat pola, kemudian memecah pola, pola depan dan belakang. Lalu menata pola di atas kain, kemudian baru mulai menjahit. Pertama membuat busana bayi dan busana anak dulu. Lalu kita diajari membuat rok dengan ukuran sendiri. Di kelas XI belajar membuat busana kerja, celana atasan, dan gaun," ujar Indah Juniarsi, siswi kelas XII SMK NU Banat kepada Kompas Female pada acara Peresmian Sekolah Fashion SMK NU Banat oleh Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (11/3/2015).

Para siswa SMK NU Banat kini menikmati beragam fasilitas dengan teknologi tinggi untuk menunjang kegiatan belajar mereka. Indah mengaku tidak canggung mengoperasikan beragam alat tersebut, sebab selain belajar mengoperasikan mesin, ia pun diajarkan untuk dapat menjahit manual dengan tangan. Dalam program ini, mereka juga didampingi oleh perancang busana muslim Irna Mutiara. 

Irna menjelaskan, para siswa memang diajarkan tentang busana muslim. Namun, mereka pun mempelajari tren dan perkembangan fashion dunia untuk dijadikan referensi dalam merancang busana. Kemudian, para siswa pun diajarkan tentang unsur desain, dasar dan prinsip perancangan, pengetahuan dan psikologi warna, serta jenis busana dan kerudung muslim.

Tidak hanya soal merancang dan menjahit busana, kata Irna, para siswa pun diajarkan untuk menentukan segmentasi pasar, agar mereka mampu mengetahui pasar yang mereka tuju untuk menjual busana rancangan mereka. Pun para siswa diajarkan menentukan dan meramal tren mode (forecasting) agar mereka memahami dan mampu mengaplikasikan rancangan mereka.

"Kami juga ajarkan mereka tentang koleksi, perencanaan, dan membuat papan inspirasi. Pilihan karier mereka ke depan dan bagaimana jika ingin membuat brand sendiri juga kami ajarkan. Hingga bagaimana memproduksi fashion show dan mengembangkan tren busana muslim sesuai kaidah, akidah, serta budaya Kudus," jelas Irna.

Sebagai wadah untuk latihan dan kreativitas para siswa, Irna pun mendampingi para siswa untuk membuat brand fashion muslim dengan nama Zelmira. Brand tersebut terbukti mampu menumbuhkan kepercayaan diri para siswa untuk merancang busana, memamerkannya, dan memasarkannya kepada publik.

"Dua minggu lalu, Zelmira berhasil mengadakan fashion show di stage utama Indonesia Fashion Week 2015, disaksikan oleh sekitar 1.000 orang. Kami sangat bangga dengan anak-anak ini, terbukti mereka mampu membuat busana yang bagus dan dapat dipasarkan," ungkap Irna.


EditorAlvin Dwipayana

Close Ads X