Anak Senang Bermain "Game Online", Harus Bagaimana?

Kompas.com - 27/04/2015, 09:00 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorAlvin Dwipayana

KOMPAS.com - Di zaman yang makin berkembang ini, sarana bermain untuk anak-anak kian beragam. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu untuk permainan tradisional, namun kini bergeser permainan digital melalui perangkat komunikasi elektronik lebih menarik. Game online adalah salah satu sarana permainan yang cukup sering dimainkan oleh anak-anak di masa kini.

Game online adalah permainan yang dapat diakses dengan sambungan internet. Namun, selama ini kerap muncul anggapan negatif soal permainan ini. Bagaimana tidak, game online seringkali menampilkan adegan-adegan kekerasan, perang, hingga hal-hal yang berbau seksual secara implisit maupun eksplisit.

"Game itu ada rating-nya. Ada juga game yang rating-nya untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun," ujar Monica Carolina, pendiri Nixia Gamer kepada Kompas Female dalam sebuah diskusi memperingati Hari Kartini beberapa waktu lalu di Jakarta.

Monica yang akrab disapa Nixia ini sendiri merupakan seorang gamer yang mengenal game online sejak masih kecil. Sejak duduk di bangku SMA, Nixia mulai mengikuti berbagai macam kompetisi game online secara profesional. Selama ini, kata dia, orangtuanya tidak pernah secara keras melarangnya bermain game online.

"Orangtua dulu modalin saya PlayStation. Tapi saya tidak pernah bermain game sampai berlarut-larut hingga berjam-jam. Orangtua saya tidak pernah menganggap negatif karena saya tidak pernah mengorbankan sekolah . Saya juga tetap belajar dan bergaul sama teman-teman," tutur Nixia.

Menurut dia, sejak kecil ia hanya menghabiskan waktu selama satu hingga dua jam sehari untuk bermain game. Selain itu, bermain game pun hanya dilakukannya pada akhir pekan atau periode liburan sekolah. Ia pun menampik anggapan bahwa seorang gamer biasanya adalah seorang antisosial.

Nixia memandang tidak sedikit para gamer yang tetap memiliki kehidupan sosial di kehidupan nyata. Soalnya, berbagai acara komunitas gamer sering digelar sebagai ajang "kopi darat" para penggemar game online. Antisosial atau tidak, kata Nixia, tergantung pribadi masing-masing.

Lalu, apa saran Nixia bagi orangtua untuk mencegah ketergantungan dan kecanduan anak terhadap game online? Sederhana saja, sebaiknya orangtua tidak serta-merta melarang, namun lebih memperketat pengawasan terhadap game yang dimainkan oleh sang anak.

"Pengawasan terhadap jenis permainan online jadi lebih penting. Orangtua bisa lebih perhatian. Jangan lupa memperhatikan rating game yang dimainkan. Kalau bisa, beri jadwal main ke anak, misalnya hanya di hari Sabtu atau Minggu dan hari libur. Di hari biasa lebih fokuskan pada kegiatan lain," saran Nixia.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X