Cegah Penyakit Ginjal, Jaga Tekanan Darah Tetap Normal - Kompas.com

Cegah Penyakit Ginjal, Jaga Tekanan Darah Tetap Normal

Kompas.com - 08/04/2017, 21:20 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Penyebab terbanyak penyakit gagal ginjal di Indonesia adalah tekanan darah tinggi (hipertensi). Oleh karena itu penderita hipertensi perlu mempertahankan tekanan darahnya tetap normal agar tidak terjadi kerusakan ginjal.

"Di Indonesia sekitar 40 persen penyakit gagal ginjal kronis adalah hipertensi, disusul oleh diabetes melitus. Kalau di dunia, penyebab utamanya diabetes," kata dr.Pranawa, Sp.PD-KGH, disela acara Pemaparan Hasil Studi Efektivitas Pengobatan Gagal Ginjal yang diadakan oleh CHEPS Universitas Indonesia di Jakarta (8/4/2017).

Pranawa menjelaskan, tekanan darah yang terus menerus tinggi bisa menyebabkan kerusakan unit terkecil pada ginjal yang disebut glomerulus. Hipertensi juga dapat memicu kebocoran protein sehingga ginjal rusak.

Kerusakan ginjal terjadi perlahan-lahan. "Pada pasien hipertensi yang tidak diobati dalam waktu 10 tahun bisa terjadi kerusakan ginjal. Tapi kalau diobati dan bisa mencapai target tekanan darah yang normal, kerusakan bisa dicegah," papar dokter dari RSUD Dr.Soetomo Surabaya ini.

Menurut Pranawa, ada kesalahpahaman di masyarakat mengenai pengobatan hipertensi yang dikhawatirkan akan merusak ginjal.

"Justru kalau hipertensinya tidak dikontrol akan menyebabkan ginjal rusak, bukan obatnya," ujarnya.

Tekanan darah bisa dikendalikan dengan cara mengubah pola makan, mengurangi asupan garam dan makanan kemasan, menjaga aktivitas fisik, serta memperhatikan pola tidur.

Penderita penyakit ginjal kronis yang sudah stadium 5 (paling parah) harus menjalani cuci darah (hemodialisis). Tindakan cangkok ginjal sebenarnya lebih baik, tetapi di Indonesia cukup sulit mendapatkan donor ginjal.

Cuci darah membutuhkan biaya yang sangat mahal. Saat ini rata-rata seorang pasien gagal ginjal menghabisakan lebih dari Rp 100 juta setiap tahun untuk melakukan cuci darah. Oleh karena itu, mencegah penyakit ini tentu jauh lebih murah ketimbang mengobati.


EditorLusia Kus Anna

Terkini Lainnya


Close Ads X