Kompas.com - 15/01/2018, 16:19 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Cara anak menghadapi sebuah konflik ternyata ikut berpengaruh pada kesehatannya dalam jangka panjang. Menurut studi terbaru, anak yang pemarah dan kurang bisa bergaul dengan teman sebayanya akan lebih rentan menderita penyakit saat dewasa.

Menurut studi yang dilakukan tim dari University of Virginia, AS, anak-anak yang selalu berkonflik dengan teman sebayanya dan seringkali tidak bisa diselesaikan dengan baik berisiko menderita berbagai masalah kesehatan, termasuk penuaan dini dan radang sendi (arthritis).

Dari penelitian yang berjudul "The Body Remembers", terungkap ada perbedaan antara orang dewasa yang masa kecilnya memiliki konflik sosial serta belum terselesaikan dengan baik; dan orang yang dapat menyelesaikan konfliknya.

Kedua kelompok orang dewasa tersebut diteliti pada saat usia yang sama, 28 tahun. Pada orang dewasa yang tak bisa menangani konflik, peneliti menemukan interleukin-6 dalam aliran darah mereka. Adapun interleukin-6 merupakan protein yang umumnya terkait dengan osteoporosis, tumor kanker, arthritis, dan berbagai masalah medis lainnya.

Sementara anak yang mampu menyelesaikan masalah konflik dengan baik cenderung memiliki interleukin-6 yang rendah.

"Orangtua sering menganggap bahwa masalah anak dengan temannya sangat sepele, tak berarti apa-apa dan akan berlalu begitu saja. Namun, penelitian ini mengatakan bahwa hubungan tersebut tidak lah sepele," ujar Joseph Allen, profesor pikologi di University of Virginia dan penulis utama studi tersebut.

Penelitian ini dilakukan secara jangka panjang, di mana Allen dan timnya memulai penelitian terhadap 127 siswa sekolah menengah pada tahun 1988.  Responden ditanya bagaimana mereka menyelesaikan konflik dan mengamati cara mereka bergaul dengan teman-temannya untuk melihat seperti apa interaksi tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

(Baca juga: Kesalahan Pola Asuh yang Sering Dilakukan Orangtua "Zaman Now")

Terakhir, para peneliti kemudian mengambil sampel darah ketika responden berusia 28 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang menangani masalah dengan reaksi buruk seperti marah berisiko lebih tinggi memilki interleukin-6 daripada siswa yang mampu menghindari atau menyelesaikan masalah dengan teman mereka.

Oleh karena itu, Allen menyarankan agar orangtua lebih peka ketika anak mereka memiliki masalah dengan temannya.

Bagi orang dewasa mungkin masalahnya terlihat kecil, namun efek dari masalah ini pada anak bisa berdampak jangka panjang, termasuk soal kesehatan.

"Ketika remaja khawatir dengan konflik bersama teman sebayanya, memang itu yang harus dilakukan. Kita juga perlu menganggap ini serius. Ini bukan sesuatu yang harus diabaikan," ujar Allen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Fatherly
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.