BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Suzuki

Kenapa Pisang Nugget, "Lyfe", dan Jaket Bomber Bisa Jadi Tren?

Kompas.com - 19/04/2018, 17:47 WIB
Ilustrasi kata lyfe Dimas WahyuIlustrasi kata lyfe
Penulis Dimas Wahyu
|

KOMPAS.com - Seorang profesor bernama Robert C Baker suatu kali mengajak muridnya, Joseph Marshall, untuk menciptakan sebuah makanan baru.

Robert yang ahli di bidang rekayasa makanan saat itu menghadapi dua tantangan. Yang pertama, ia ingin membuat sebuah gumpalan daging yang bisa tetap menyatu ketika digenggam.

"Tantangan kedua adalah mencari cara agar adonannya tidak menyusut waktu digoreng," begitu cerita soal Robert C Baker di Businessinsider.

Yang dibuat oleh Robert ternyata adalah nugget, dan makanan itu diciptakan tahun 1963 atau belasan tahun sebelum akhirnya masuk gerai cepat saji.

Simpel. Tetap ayam, tetapi tinggal makan tanpa terganjal tulang. Begitulah kira-kira asal mula nugget. Pada masa-masa selanjutnya, pariwara gerai cepat saji telah membuatnya lebih berumur panjang dalam ingatan.

Bahkan sekalipun beralih zaman, urusan penganan renyah-berisi ini masih berlanjut, manakala kini kreasi baru membuahkan isi yang berbeda, yakni pisang.

Citra nugget lalu bukan lagi makanan asin, melainkan juga manis. Sesuatu yang baru telah lahir di tengah masyarakat.

Sifatnya mungkin main-main, seperti juga kata “lyfe” yang beredar di media sosial untuk mengeluhkan soal “life” alias hidup, tanpa terasa serius.

Hanya gara-gara—entah siapa—mengubah “i” menjadi “y”, orang-orang mulai memakainya, bahkan sibuk membahasnya. Kalau mau lihat, coba saja buka halaman Urban Dictionary.

Sebelum lyfe dan pisang nugget, orang-orang juga pernah sibuk dengan “ jaket bomber”, yang sebelumnya sudah populer, dan makin menjadi wacana sewaktu dikenakan oleh Presiden Joko Widodo (yang kini berjins di atas chopper).


Ilustrasi jaket bomberDimas Wahyu Ilustrasi jaket bomber

Jaket bomber, kenapa tiba-tiba benda ini dibicarakan di dunia fashion? Jaket ini sendiri—secara sejarahnya—mulai populer tahun 1960-an di kalangan anak-anak ber-etos yang menandai diri dengan berskuter dan menyebut dirinya “mods”, di samping juga mereka yang menyebut diri “skinhead”.

Namun, jika mengacu pada namanya, jaket ini memang mulanya dibuat untuk awak pesawat bomber. Waktu itu, jaket tersebut diproduksi oleh perusahaan bernama Dobbs Industries, dan ditujukan khusus untuk Angkatan Udara dan Laut Amerika Seriat (US Navy-Air Force).

Jaket dibuat karena para awak berada di lingkungan berangin, dingin, dan terbuka dalam suatu operasi udara.

Entah bagaimana, stoknya kemudian mengalir ke gerai-gerai baju, menurut cerita "A Brief History of the Bomber Jacket: From the Cockpit to the Runway" di Hypebeast.com. Mungkin seperti juga kebiasaan di Indonesia, masyarakatnya bangga memakai pakaian ataupun peralatan tentara karena kualitasnya.

Bicara perubahan karena hadirnya pisang nugget, perubahan fungsi pada jaket bomber, dan kata lyfe yang bikin hidup jadi lebih hidup, semuanya sama-sama berujung pada sebab simpel. Ketiganya menarik karena merupakan sesuatu yang baru.

“Sesuatu yang benar-benar baru akan mengaktifkan otak tengah kita,” begitu menurut neuro-biolog Dr Emrah Duezel yang bersama Nico Bunzeck bercerita soal penelitian respons otak tengah—sebagai tempat penerima stimulus hal-hal baru—kepada Lifehacker dalam "Novelty and the Brain: Why New Things Make Us Feel So Good".

Keduanya sebelumnya mengadakan riset terhadap sejumlah orang dengan memasangkan pemindai otak, dan menunjukkan kartu-kartu berisi gambar yang bersifat umum dan gambar-gambar dengan obyek unik atau baru.

Tidak heran, suguhan yang serba baru—secara bentuk dan konsep—lantas saat ini menarik untuk diburu. Yang baru itu bisa berupa makanan, bisa tempat wisata, bisa cara bicara, bisa juga mobil. Contohnya ketika Suzuki menyebut Ignis sebagai urban SUV.

Suzuki Ignis Varian BaruAditya Maulana - KompasOtomotif Suzuki Ignis Varian Baru

Urban SUV? Secara ukuran, mobil ini kompak layaknya citycar. Namun, sesuai nama jenisnya, ia punya bodi yang kekar dan punya fungsi SUV dengan jarak bodi ke tanah 18 cm.

Sementara itu, desainnya agak retro, dan bahkan kini punya edisi spesial dengan tambahan spoiler di depan bawah, samping bawah, belakang bawah, dan belakang atas sehingga muncul sebutan Ignis Sport Edition by Suzuki Sport.

Simpelnya kira-kira begini. Ketika mobil ini lewat, ada saja orang yang bergumam, “Eh, itu mobil apa ya? Ooh... Ignis ya.”

Rasa-rasanya seperti menanggapi pisang nugget, ataupun lyfe, ataupun juga jaket bomber di dunia fashion. Mungkin, saat itu, otak area tengah kita sedang bereaksi terhadap sesuatu yang baru.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya