BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Philips

Siap Beri MPASI untuk Anak, Simak Tipsnya

Kompas.com - 21/05/2018, 12:42 WIB
Ilustrasi anak sedang menikmati Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Philips AventIlustrasi anak sedang menikmati Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

KOMPAS.com – Meski si buah hati diperkirakan lahir dua bulan lagi, Wulan (27) sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhan bayinya. Tidak hanya perkara nama, pakaian, atau perlengkapan bayi, ia juga merangkum informasi perihal cara merawat sang anak.

Maklum saja, ini adalah pengalaman pertama bagi wanita yang bekerja sebagai desain grafis di sebuah perusahaan swasta itu.

“Aku bahkan sudah mulai browsing tentang MPASI (makanan pendamping air susu ibu). Padahal, itu baru akan aku jalani 8 bulan mendatang. Namanya juga calon ibu ‘zaman now’”, ujar Wulan sambil tertawa ketika berbincang dengan Kompas.com, Senin (14/5/2018).

Bagi ibu muda, memberi makanan pertama pendamping air susu ibu kepada bayi juga merupakan tantangan tersendiri.

Pada titik ini, Anda mungkin sudah punya banyak rencana, seperti halnya Wulan, atau malah menjadi bingung karena menerima begitu banyak saran dan masukan yang berbeda dari keluarga, teman, atau artikel-artikel parenting yang bertebaran.

Bagaimanapun, orangtua, khususnya ibu, harus selalu ingat bahwa kesiapan anak terhadap sesuatu, termasuk MPASI, bergantung pada perkembangan anak itu sendiri. Jadi, tidak ada pakem khusus yang harus dipatuhi.

MPASI memang biasanya diberikan kepada bayi setelah memasuki usia 6 bulan. Pada usia ini, umumnya sistem pencernaan bayi sudah siap untuk menerima makanan padat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di samping itu, America Academy of Pediatrics (AAP) dalam artikel “Starting Solid Food” yang dipublikasikan oleh laman HealthyChildren.org juga merekomendasikan agar pemberian MPASI baru dilakukan ketika si buah hati telah memiliki kontrol kepala yang baik.

Bayi harus sudah mampu untuk duduk dengan kepala tegak di kursi tinggi atau kursi khusus bayi. Hal ini akan mencegahnya dari risiko tersedak.

Anda bisa semakin yakin untuk memberikan MPASI ketika bayi mulai penasaran dengan apa yang Anda makan serta berusaha meraih dan memasukkannya ke dalam mulut.

Makanan pertama

Memberikan makanan pertama untuk si kecil memang bukan hal yang mudah. Jangan kaget jika sebagian besar makanan yang Anda suapkan justru berakhir di tangan, wajah, atau lantai. Mulailah dengan satu suapan kecil, yang kemudian Anda tingkatkan secara bertahap.

Jika ia malah menangis atau terus-menerus menolak, sebaiknya jangan dipaksakan. Kembalilah pada ASI secara eksklusif dan coba lagi ketika mood-nya sudah kembali membaik.

Kendala ini dialami Arum (28). Anak keduanya, Zidan, yang kini berusia 8 bulan, sering kali menolak makanan yang diberikan Arum. Hal ini terjadi sejak Zidan memulai masa MPASI-nya dua bulan lalu.

“Zidan sering melakukan GTM (gerakan tutup mulut). Apa saja yang aku suapin ditolak sama dia. Kadang juga enggak tentu. Hari ini suka banget pisang, tahu-tahu besoknya sama sekali enggak mau,” cerita Arum.

Masih menurut AAP, sebagian besar bayi sesungguhnya tidak peduli, makanan pertama apa yang akan mereka konsumsi. Tidak pula ada bukti medis yang menunjukkan urutan menu makan yang sebaiknya diberikan kepada mereka.

Oleh sebab itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orangtua untuk memberikan makanan yang bervariasi, seperti daging, ayam, ikan, telur, buah, serta sayuran kepada anak di usia ini.

Dari situ, Anda akan dapat membaca respons bayi dan mengetahui makanan apa yang lebih ia sukai atau tidak ia sukai, serta makanan apa yang membuatnya alergi atau diare sehingga sebaiknya Anda hindari.

Berbicara tentang makanan, studi dari University Health Centre and the Montreal Children’s Hospital yang dipublikasikan pada 2017 menunjukkan bahwa anak yang sejak dini dibiasakan mengonsumsi masakan rumah (homemade food) cenderung menyukai hampir semua jenis makanan.

(Baca: Kata Peneliti, "Homemade Food' Bikin Anak Tak Lagi Pilih-pilih Makanan)

Selain kebersihan yang lebih terjaga, MPASI yang Anda buat sendiri di rumah tentu akan lebih terjaga kualitas dan nutrisinya. Anda juga dapat memvariasikan menu sesuai selera, dan dengan takaran gizi yang tepat untuk si buah hati.

Memang, hal ini membutuhkan upaya ekstra, seperti yang pernah dialami Arum ketika memberikan MPASI untuk anak pertamanya, Kenzie, yang kini sudah berusia 2,5 tahun.

Kala itu, Arum masih bekerja sehingga ia harus bangun begitu pagi untuk menyiapkan sendiri menu MPASI untuk Kenzie. Beberapa menu ia sajikan dengan dikukus (steam) dan yang lainnya dihaluskan menggunakan blender.

(Baca: "Working Mom", Sudah Siap Membuat MPASI Sendiri?)

Melihat manfaatnya yang besar, usaha untuk membuat MPASI sendiri akan terbayar. Terlebih lagi, saat ini telah tersedia berbagai peralatan masak yang memudahkan pembuatan MPASI.

Essensial Steamer Blender SCF862 Philips Avent membantu memudahkan membuat MPASIPhilips Avent Essensial Steamer Blender SCF862 Philips Avent membantu memudahkan membuat MPASI

Salah satunya adalah Essential Steamer Blender SCF862 dari Philips Avent. Dengan alat ini, proses steamer dan blender bisa dilakukan dalam satu alat. Hal ini tentu menjadikan pekerjaan membuat MPASI semakin praktis, terlebih bagi ibu pekerja.

Di samping itu, alat ini juga memiliki sirkulasi penguapan dari atas ke bawah yang membuat makanan matang secara merata. Dengan demikian, nutrisi si kecil pun tetap terjaga, dan tahap MPASI akan semakin optimal.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.